foto-foto aktiviti dakwah dan kemanusiaan

foto-foto aktiviti dakwah dan kemanusiaan
Showing posts with label Khutbah Jumaat (PADI). Show all posts
Showing posts with label Khutbah Jumaat (PADI). Show all posts

Friday, September 4, 2009

Siri Khutbah: MARI KITA MUHASABAH DIRI.."KENAPA DAKWAH KITA TAK MENJADI?

IKRAR: (Ikatan Kebajikan Rakyat). Badan bebas dan non partisan. Fokus kepada nasib dan kebajikan rakyat.

Tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan

Jumat, 28/08/2009 11:28 WIB
Secara umum, tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan sangat banyak dan kompleks. Paling tidak terdapat enam tantangan besar yang dihadapi Harokah Islamiyah Masa Depan.

Penulis: Fathuddin Jafar, MA

6. Tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan

Secara umum, tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan sangat banyak dan kompleks. Paling tidak terdapat enam tantangan besar yang dihadapi Harokah Islamiyah Masa Depan. Keenam tantangan tersebut ialah :

1. Tantangan internal

Tantangan internal Gerakan Dakwah itu terdiri dari :

A. Kejumudan (kebekuan) berfiikir.

Hampir semua Gerakan Dakwah mengalami kejumudan sehingga terhentinya pembaruan kendati sudah melewati perjalanannya berpuluh-puluh tahun. Keberanian dan kemauan melakukan tajdid al-manhaj al-haroki al-fikri (pembaruan konsep pemikiran harokah) dan al-manhaj al-haroki al-‘amali (konsep aktivitas harokah), hampir tidak ada, khususnya terkait dengan masalah-masalah ijtihadiyah para pendirinya sejak puluhan tahun yang lalu. Akibatnya, Gerakan Dakwah tidak bisa menampung al-‘uqul al-kabiroh (pemikiran-pemikiran besar) – meminjam Istilah Dr. Yususf Al-Qardhawi - yang datang dari para aktivisnya sendiri, apalagi dari luar. Tajdid tersebut amat diperlukan agar terjadi proses penyempurnaan dan akselarasi dengan perkembangan dan kebutuhan dakwah masa kini. Tajdid juga berfungsi melurusakn penyimpangan amaliyah maidaniyah, khususnya bila memasuki lapangan politik praktis. Di samping itu, tajdid melahirkan pemikiran-pemikiran, konsep-konsep dan rumusan-rumusan baru yang kontekstual, moderen dan futuristik, namun tetap komitmen dengan asholah (orisinilitas)-nya. Di samping itu, tidak ada keberanian merumuskan dan mendesain ulang format, strategi, perencanaan, program dan target-target Gerakan Dakwah masa kini untuk menjawab berbagai tantangan zaman, sehingga Gerakan Dakwah mampu menjelaskan nilai-nilai Islam dalam bentuk amal, alternatif dan keteladanan. Akhirnya, yang menonjol di lapangan adalah seruan-seruan moral dan penjelasan-penjelasan nilai yang sifatnya baku dan berulang-ulang.

B. Model dan dan gaya kepemimpinan.

Rata-rata dalam parkateknya, model kepemimpinan Gerakan Dakwah adalah model masyayikh (kekiayan tradisionil), kendati dalam konsep dan teorinya meniru gaya kepemimpinan Rasulullah dan para Sahabat. Model kepemimpinan masyayikh tradisionil itu di antara cirinya ialah tidak ada yang berani mengkritik dan memprotes keputusan atau keinginan sang pemimpin, kendati nyata-nyata berlawanan dengan nilai-nilai Islam. Akhirnya, pemimpin diposisikan pada posisi yang berlebihan, dan bahkan kadangkala melebihi Nabi, atau di Indonesia dikenal dengan wali. Kurangnya keberanian dan kemauan membenahi model dan gaya kepemimpinan yang tidak sesuai dengan spirit Islam itu sendiri, seperti model masyayikh tradisonal, secara otomatis membuka peluang bagi para aktivis harokah untuk mengkultuskan pemimpin, jama’ah dan partai mereka. Pada waktu yang sama tidak akan pernah membuka peluang lahirnya kepemimpinan yang lebih baik dan lebih berkualitas dari sebelumnya.

C. Ta’sh-shub jama’i, qiyadi dan Hizbi (Fanatink pada jama’ah. Pemimpin dan partai).

Ta’sh-shub tersebut menjadi ancaman serius bagi Gerakan Dakwah. Sebab, secara syar’i, ta’ash-shub adalah perbuatan jahiliyah yang sangat dibenci. Secara fakta di lapangan, ta’ash-shub pada ketiga hal tersebut juga telah melahirkan persaingan dan perpecahan di kalngan umat, khususnya di kalangan antar aktivis Gerakan Dakwah yang berbeda nama dan payung. Dengan demikian, Gerakan Dakwah akan kehilangan banyak peluang Dakwah dan interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk antar sesama aktivis Gerakan Dakwah yang berbeda nama dan warna. Ini juga merupakan salah satu penyebab yang memperlambat perkembangan dan pertumbuhan Gerakan Dakwah itu sendiri.

D. Keenggenan menjadi al-‘unshur al-jaami’, ( faktor perekat) bagi kalangan Gerakan Dakwah lainnya, juga bagi umat Islam secara luas, dan bahkan ironisnya dalam kalangan jamaah sendiri. Di antara penyebabnya ialah suburnya penyakit ta’ash-shub jama’i, qiyadi dan hizbi (fanatik buta terhadap jama’ah, pemimpin dan partai) serta pemikiran pemikiran masing-masing Gerakan Dakwah, seperti yang disebutkan pada poin 3 di atas. Bahkan terkadang lahir sebuah pendapat dan sikap yang keliru seperti “right or wrong is my jama’ah, may leader and my party”. Ironisnya, dalam lapangan politik praktis seringkali berkoalisi dengan tokoh, atau partai atau kelompok yang nyata-nyata musuh Islam atau paling tidak tidak menyukai tegaknya Islam sebagai the way of life di negeri mereka tinggal.

E. Kelemahan mawarid basyariyyah (sumber daya manusia) dalam berbagai bidang ilmu.

Kelemahan SDM tersebut mengakibatkan terjadinya kelemahan ruhiyah (mental) dan uswah (keteladanan) sebagai syarat mutlak menjadi khoiru ummatin ukhrijat linnas (umat terbaik dan berkualitas tinggi yang tampil di tengah-tengah manusia) dalam mengemban missi khalifatullah yang akan memakmurkan kehidupan umat manusia di atas muka bumi melalui nilai-nilai Islam yang amat adil danmanusiawi.


2. Tantangan Sesama Gerakan Dakwah.

Kalau kita cermati problema dan masalah-masalah yang terjadi sesama Gerakan Dakwah maka kita akan menemukannya sebagai berikut :


A. Kurangnya kesiapan dan kemauan membangun komunikasi yang baik dan intensif sehingga terjadi proses ta’aruf (perkenalan), kemudian ditersuskan dengan tafahum (saling mengerti) dan kemudian ta’awun (tolong menolong) serta berlanjut dengan takaful (saling menopang) dengan harapan kemuidan bersinerji untuk menuju wihdatul harokah (kesatuan pergerakan).

B. Kurangnya kesiapan dan kemauan untuk mehamai dan menerapkan kaedah-kaedah ilmiyah dan amaliyah dalam menyikapi perbedaan baju harokah seperti :

i. Perbedaan dalam masalah furu’ (cabang) dan lapangan ijtihadiyah adalah suatu kenyataan yang sudah terjadi sejak zaman Sahabat dan mustahil dapat dihindarkan dan juga berfungsi sebagai fleksibelitas ajaran Islam dalam rangka kemudahan bagi umat Islam.

ii. Menerapkan prinsip washothiyyah (pertengahan) dan meninggalkan sikap ghuluw (berlebihan) dalam penerapan ajaran Islam.

iii. Tidak bersikap reaktif (menerima atau menolak tanpa dipelajari dengan baik) terhadap masalah-masalah ijtihadiyyah, karena kemungkinan benar dan juga kemungkinan salah.

iv. Tidak mau belajar dari para Sahabat Rasulullah dan ulama-ulama besar Islam sepanjang sejarah dalam memenej ikhtilaf (perbedaan) pendapat di antara mereka.

v. Fokus terhadap masalah-masalah besar yang sedang dihadapi umat Islam dan umat manusia hari ini.

vi. Bekerjasama dalam masalah yang disepakati dan bertoleransi dalam masalah yang belum disepakati.

vii. Yakin bahwa Al-Islam sebagai agama Allah untuk semua manusia tidak mungkin mampu ditegakkan oleh satu kelompok Gerakan Dakwah saja. Bekerjasa sama dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi ‘anilmunkar merupakan suatu kebutuhan lapangan. Sebab itu, bersatu dan bekerjasama dalam menjalankan dan memperjuangkan agama Allah merupakan tuntutan dan kewajiban dari Allah.

C. Kesiapan dan kemauan memahami dan menerapkan kaedah-kaedah ruhiyah (spiritualitas) dalam menghadapi perbedaan baju harokah. Di antaranya :

i. Membebaskan diri dari nafsu dan syahwat ujub (bangga) pada diri, jama’ah, kelompok, partai dan pemimpin.
ii. Membebaskan diri dari fanatisme terhadap jama’ah, partai, kelompok, pemimpin, mazhab, pemikiran dan pendapat para Imam/pemimpin.
iii. Menghindari selalu dalam diri sifat su-uzh-zhon (buruk sangka) terhadap sesama Muslim.
iv. Menghindari pembicaraan mencela, perbuatan dan sikap yang dapat menyakiti perasaan sesama Muslim.
v. Menghindari jidal (debat kusir) dan permusuhan terhadap sesama Muslim.
vi. Belajar berdialog denagn cara yang lebih baik.
vii. Tanamkan sifat dan sikap kasih sayang dan santun terhadap sesama Muslim.
viii. Selalu mendoakan kamum Muslimin agar mendapat hidayah dan ampunan Allah, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup.

3. Tantangan Para Tokoh Dakwah yang tidak atau belum tergabung dalam harokah.

Sebuah kenyataan dan fenomena menarik bahwa hampir di seluruh Dunia Islam selalu muncul tokoh-tokoh besar dakwah yang dalam menjalankan Dakwah Ilallah mengandalkan kemampuan dan kharismatik pribadi. Pengikut setia (anggota jama’ah) mereka sangat banyak. Pengaruh mereka di lapangan sangat terasa, termasuk dalam perubahan moral masyarakat. Kelebihan yang mereka miliki juga banyak, kendati kelemahan-kelemahannya juga tidak dapat dipungkiri karena disebabkan beramal secara infirodi (single fighter). Mereka harus dilihat sebagai asset umat yang berharga dan harus selalu berupaya menjalin silaturrahmi (komunikasi) yang baik dalam rangka menuju ta’aruf (berkenalan), tafahum (saling mengerti), ta’awun (kerjasama) dan selanjutnya takaful (saling menopang) serta berikutnya menuju tauhidul ummah (penyatuan potensi umat).

Secara umum, tantangan Harokah Islamiyah Masa Depan terhadap para tokoh Dakwah tersebut sama dengan yang dihadapi dengan sesama Gerakan Dakwah. Letak perbedaanya hanya pada struktur formal dan informal. Artinya, para tokoh Dakwah tersebut biasanya tidak memiliki struktur formal dan nizhom asasi (peraturan organisasi) sebagaimana Gerakan Dakwah lainnya. Kalupun ada hanya sebatas hubungan kuat antara seyekh dengan murid. Sikap yang dibangun juga sama dengan yang dibangun terhadap sesam Gerakan Dakwah yang terstruktur. Personal approache (pendekatan pribadi) insyaa Allah akan lebih banyak membantu.


Saturday, August 29, 2009

Khutbah JUmaat: Dr. Danial.."Zaman Umar A. Aziz.."

IKRAR: (Ikatan Kebajikan Rakyat). Badan bebas dan non partisan. Fokus kepada nasib dan kebajikan rakyat.


Mari kita renungkan pesanan dari khutbah ini!!



Saturday, August 22, 2009

SIRI KHUTBAH: JALAN INI...MUSTAFA MASYHUR..

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

Penjelasan Umum Mengenai Jalan Ini

Wednesday, 11/02/2009 15:22 WIB

Siapa di antara kalian yang ingin cepat memetik buah sebelum masak atau hendak memetik hasil sebelum masanya, maka aku tidak bersama dengannya sama sekali dan lebih baik baginya meninggalkan dakwah ini dan carilah dakwah yang lain.

Dari Buku: Thariqud Dakwah atau Jalan Dakwah

Penulis: Syaikh Mustafa Masyhur

bagian satu

Dakwah Ikhwanul Muslimin merupakan satu suara dakwah dari seri dakwah dan seruan Rasullah s.a.w. yang pertama, yang tersemat kukuh di hati mukminin dan berulang kali menjadi sebutan di lidah mereka. Mereka berusaha bersungguh-sungguh untuk menanam keimanan di hati umat Islam supaya mengamalkannya dalam setiap kegiatan hidup mereka, supaya hati-hati mereka berpadu di atasnya.

Sekiranya mereka dapat berbuat demikian Allah akan menolong dan membantu mereka serta menunjukkan mereka jalan yang benar dan lurus. Marilah kita beriman dan beramal. Marilah kita berkasih sayang dan bersaudara.

Hala Tuju: Inilah setinggi-tinggi hala tuju yang kita harus berusaha kepadanya. Lantaran itu, Allahlah tujuan kita. Tidak ada suatu yang kita tuju kecuali Allah. Kita beriman kepadaNya. Kita melihat segala sesuatu untuk Dia di dalam hidup kita. Kita beribadah kepadaNya dengan sepenuh hati.

Kita mencari keredhaanNya dalam setiap usaha kita dari sekecil-kecil perkara hingga kepada sebesar-besarnya dalam setiap kegiatan hidup kita dengan penuh ketulusan dan keikhlasan yang sempurna serta benar-benar yakin bahawa disitulah terletaknya kebahagiaan yang sejati, hidayah yang hakiki dan kejayaan yang sebenar.

"Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." AzZaariyat: 50

Tugas dan Kepentingannya adalah besar dan agung yaitu memimpin dunia, mengajar seluruh manusia kepada sistem Islam, cara hidup Islam dan ajaran yang baik di mana manusia tidak mungkin bahagia tanpanya. Tugas ini bukan tugas juz 'iah, bukan separuh-separuh dan bukan sebahagian-bahagian. Bukan hanya untuk mencapai tujuan-tujuan sebatas politik, sosial dan ekonomi saja. Bukan juga hanya untuk satu tempat atau satu daerah tertentu. Bukan juga terbatas kepada satu bangsa dan tanahair yang tertentu.

Tetapi, ia satu tugas agung yang meliputi setiap aspek kehidupan demi kebaikan yang paling sempurna dan paling bahagia kepada seluruh manusia, bahkan bagi seluruh makhluk Allah karena sesungguhnya Rasullah itu diutus untuk membawa rahmat ke seluruh alam.

Balasannya sangatlah besar. Selain daripadanya adalah kecil belaka. Segala yang ada dalam kehidupan kita di dunia, semua nikmat, harta benda, kekuasaan, kesenangan dan kemewahan semuanya kecil belaka. Balasannya di sana adalah syurga yang seluas langit dan bumi.

Di dalamnya disediakan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh fikiran. Di sana kita akan bersama dengan para anbiya', para siddiqin, para syuhada' dan para salihin kerana merekalah sebaik-baik sahabat. Kita akan selamat dari azab neraka yang bahan bakarnya terdiri dari batu dan manusia. Kemuncak dari itu semua ialah 'keredhaan Allah'.

"Dan keredhaan Allah adalah lebih benar, itu adalah keberuntungan yang besar.” At Taubah :72

1.1 Tabiat Jalan Dakwah:

"Aliif Laam Miim. Adakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan kami telah
beriman sedangkan mereka tidak diuji. Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Lantaran itu Allah mesti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.”. Al-Ankabut: 1-3

Jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bunga, tetapi merupakan satu jalan yang susah dan panjang. Kerana sesungguhnya antara yang hak dengan batil ada pertentangan yang nyata. Ia memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul bebanan yang berat. Ia memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan ialah usaha dan kerja yang berterusan dan hasilnya terserah kepada Allah di waktu yang dikehendakiNya.

Mungkin anda tidak akan dapat melihat natijah serta hasilnya ketika anda masih hidup. Sesungguhnya kita hanya disuruh beramal dan berusaha, tidak disuruh melihat hasil dan buahnya.

Sesungguhnya apa yang akan ditemui oleh para duat di jalan Allah adalah gangguan dan tekanan dari golongan taghut dan musuh-musuh Allah yang mau menghapuskan mereka, memusnahkan dakwah mereka atau menghalang mereka dari berdakwah. Itu adalah lumrah yang telah berlaku berulang kali di zaman ini. Semuanya didorong oleh rasa takut golongan taghut. Mereka takut kuasa mereka yang berdiri di atas dasar kebatilan akan musnah apabila yang hak bangun dan tegak untuk menghapuskan kebatilan.

"Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap."Al-Anbiyaa': 18

Bagi menghalakan terkaman dan cengkaman kuku besi mereka ke atas dakwah al-hak dan para pendokong dakwah, mereka terlebih dahulu akan mereka-reka pelbagai tuduhan yang paling keji
dan dusta itu kemudianya dilemparkan kepada para pendokong dakwah.

Mereka gambarkan kepada manusia bahawa para pendokong dakwah adalah musuh negara dan musuh orang ramai supaya orang ramai bangun menentang mereka seperti apa yang dilakukan oleh Firaun dan para pembesarnya terhadap Nabi Musa.

"Dan berkatalah Firaun (kepada pembesar-pembesarnya): Biarlah aku membunuh Musa dan hendaklah dia memohon kepada Tuhannya, kerana sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agamamu atau
menimbulkan kerusakan dimuka bumi".Al-Mukmin: 26

Subhanallah, Maha Suci Allah. Demikianlah sikap Firaun dan pembesar-pembesarnya, sikap pengikut-pengikut Firaun di zaman itu ataupun di zaman ini. Nabi Musa dituduh sebagai perusak dan Firaun dianggap sebagai pembela bangsa dan memelihara kepentingannya.

Pembesar-pembesar Firaun menghasut Firaun supaya menentang Musa dan kaumnya serta menakut-nakutkan Firaun akan perbuatan Musa. Lalu Firaun menenangkan fikiran mereka dengan menyatakan bahawa dia akan mengawasi Musa:

"Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Firaun (kepada Firaun): Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?

Firaun menjawab : Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka, sesungguhnya kita berkuasa penuh ke atas mereka". Al-A'raaf: 127

1.2 Balasan Baik Bagi Orang-orang Yang Bertakwa:

Namun, semua itu tidak melemahkan iman Musa dan kaumnya. Musa mewasiatkan kepada mereka
supaya bersabar dan memohon pertolongan dari Allah s.w.t. dan menggembirakan mereka serta menenangkan hati mereka dengan mengingatkan bahawa bumi ini kepunyaan Allah. Dia pasti akan
mempusakakannya kepada hamba-hambanya yang bertakwa.

"Musa berkata kepada kaumnya: Mohonlah pertolongan dari Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipuskakannya kepada sesiapa yang dikhendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa" AlA'raaf: 128

Jadi jalan dakwah, walau bagaimana pun susahnya, deritanya dan pahit akibatnya, tetapi terjamin
hasilnya.

"Kami selalu berkewajipan menolong orang-orang yang beriman " Ar-Rum: 17

1.3 Inilah Marhalah (Peringkat) Dari Jalan Dakwah

Islam di Timur telah berjalan di atas dakwah Islam, telah membangun satu kebudayaan yang tiada
tolok bandingnya, kemudian tidur nyenyak lalu kehilangan mutiara dakwah di dalam hidup manusia. Lantaran itu mereka kehilangan segala kekuasaan dan segala kehebatannya. Bumi mereka telah dijajah oleh bangsa-bangsa jahiliah. Kekayaan mereka telah dirampas dan dirompak. Jihad dan perundangan Islam telah disembunyikan. Lebih dari itu, akhlak Islam telah disorokkan.

Hancur berderailah segala kemuliaan lalu diganti dengan ananiah (individualistik) dan kekacauan.
Mudahlah kekufuran dan keingkaran mengambil jalannya tanpa rintangan dan halangan. Tetapi
Allah Taala yang Maha Suci telah menyediakan sebab musabab untuk kebangkitan Islam di Timur
itu dari tidur, kebangkitan Islam yang baru di zaman baru ini.

Dalam kebangkitan arus Islam yang kuat ini maka lahirlah 'Jamaah Ikhwanul Muslimin' dan beberapa jamaah Islam di seluruh dunia terutamanya di dunia Islam. Imam As-Syahid Hassan Al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin melalui jalan yang telah dilalui Rasulullah s.a.w. Alangkah banyaknya persamaan di antara marhalah-marhalah dakwah yang dihayati oleh Islam di zaman sekarang dengan marhalah permulaan dakwah Islam di zaman Rasulullah s.a.w.

Islam telah menjadi asing dan jahiliah terus berleluasa. Para pendokong dakwah ditindas, diperkotak-katikkan serta dikepung dari segenap penjuru untuk dihancur leburkan.

Samalah keadaannya dahulu di mana musuh-musuh dakwah Islam dipimpin oleh golongan musyrikin di Semenanjung Tanah Arab, para penyembah api di negara besar seperti Parsi (Iran) di sebelah Timur dan kerajaan raksaksa Romawi di sebelah Barat bersama Yahudi.

Demikian juga halnya musuh-musuh dakwah Islam di hari ini yang dipimpin oleh golongan komunis di sebelah Timur dan golongan Kristian dan Zionism dari negara sebelah Barat yang sekular. Jahiliah moden ini disertai pula oleh boneka-boneka dari kalangan muslimin yang telah diracuni hati dan fikiran mereka oleh jahiliah moden. Malah mereka lebih kejam dan lebih sesat dari jahiliah di zaman permulaan dakwah Islam di zaman Muhammad s.a.w.

Ini semua memberi peringatan kepada kita bahawa muslimin di zaman Rasulullah s.a.w itu sentiasa bertahan dan bersabar sehinggalah Allah menolong mereka, menghina para pendokong syirik, kufur
dan jahiliah serta mengalahkan mereka. Lalu berkibar dan berkuasalah kalamullah. Jatuh dan lemahlah kalimah kufur.

Demikianlah yang kita harapkan dan kepadanyalah kita berusaha InsyaAllah. Sesungguhnya kita
akan melihat kebangkitan dakwah Islam setelah ia menurun. Pada masa yang sama, budaya
materialistik dan jahiliah mula menurun setelah naik. Tanda-tanda yang nyata menjelma di dalam
kesedaran Islam yang baru, yang mengambil tempat di hati umat Islam seluruhnya, terutamanya di
kalangan pemuda-pemudi Islam.

Kebangkitan Islam kembali semula dan arus dakwah Islam menjalar di kalangan generasi baru di kalangan putera-puteri Islam untuk menghayati Islam dengan minat yang sungguh-sungguh dan benar di dalam usaha-usaha Islam, dengan Islam dan untuk Islam.

Tanda-tanda keruntuhan budaya jahiliah yang kafir itu semakin nyata dan terang apabila kita memerhatikan bagaimana gelombang keruntuhan akhlak melanda pemuda-pemuda para pendokong budaya kebendaan yang jahiliah itu.

Ini adalah merupakan berita baik dan menggembirakan di mana peralihan pimpinan manusia akan berlaku. Pimpinan jahiliah yang bertuhankan manusia akan tamat dan pimpinan dunia akan dikembalikan kepada Islam sekali lagi. Daulah Islam sejagat akan bangkit kembali dengan izin Allah
Taala yang Maha Kuasa supaya dunia berbahagia dengan agama yang hakiki dan lurus itu.

1.4 Wasilah dan Langkah-langkah:

Wasilah-dan langkah-langkah umum dalam dakwah tidak berubah, tidak bertukar ganti dan tidak melampui tiga perkara ini:-
1) Iman yang amiq; (Iman yang mendalam.)
2) Takwin daqiq; (Pembentukan yang rapi dan teliti)
3) Amal mutawasil; (usaha dan amal yang berterusan).

Dengan wasilah-wasilah inilah, amal dan usaha yang berterusan tetapi beransur-ansur mewujudkan serta membentuk individu, rumahtangga dan masyarakat yang muslim. Dari situ dapatlah disediakan dasar dan asas Islam yang teguh dan kuat untuk menegakkan pemerintahan Islam (daulah Islam) di sebuah negara umat Islam lalu dicantumkan dengan daulah-daulah Islam di seluruh dunia untuk membangunkan daulah Islam sedunia yaitu kekuasaan Islam yang merangkumi seluruh dunia Islam yang bersatu di bawah satu Khilafah Islamiah.

Ia bertanggungjawab untuk memimpin seluruh dunia, menjadi guru dunia dan mengarahkan perjalanannya demi kebahagiaan seluruh manusia dengan ayat-ayat Allah sehingga tiada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya hanya untuk Allah.

"Sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka " Al-Baqarah: 193

Sebagaimana berjalannya wasail iman, takwin, pembentukan dan amal usaha itu, berganding bahu antara satu sama lain, begitu jugalah setiap langkah awal dalam penyediaan ke arah pembentukan
individu muslim, pembangunan rumahtangga-rumahtangga Islam dan penyebaran dakwah Islam di
tengah-tengah masyarakat manusia, semuanya mestilah berjalan serentak dan berganding bahu.

Melalui jalan dakwah, tidak sah dan tidak benar kalau kita mengambil jalan ringkas lalu kita menghadkan wasilah dan langkah-langkah kita atau kita mengambil sebahagian dengan anggapan bahwa yang sebahagian itu sudah memenuhi tujuan kita dan dapat menyempurnakan tugas kita.

Sesungguhnya tidak ada iman tanpa amal dan pembentukan. Tidak ada masyarakat tanpa anggota
yang muslim dan rumahtangga-rumahtangga Islam. Merekalah tiang-tiang yang akan membangunkan pemerintahan Islam.

Kelalaian dalam mengukuhkan dasar dan memancangkan asas-asas yang teguh dan tiang-tiang yang kuat itu merupakan satu tindakan yang membahayakan, yang mungkin membawa kepada keadaan yang terbalik atau songsang. Setiap waktu dan usaha yang dicurahkan untuk meletakkan asas sebuah bangunan tidak boleh dianggap sia-sia dan tidak boleh dihentikan selagi belum nampak sebarang hasil di permukaan bumi, kerana bangunan yang besar memerlukan waktu yang panjang dan usaha yang gigih untuk menyiapkan asas dan konkritnya.

Adakah di sana sesuatu yang lebih besar dari usaha membangunkan daulah Islam sedunia yang mampu memimpin dunia memandu seluruh manusia kepada nur dan cahaya Islam yang sempurna dan menyempurnakan itu?

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Imam as-Syahid Hassan Al-Banna tatkala beliau mengarahkan ucapannya kepada golongan yang gopoh, yang cepat ingin memetik buah dakwah sebelum masak;

"Hai Ikhwanul muslimin terutama yang tergesa-gesa dari kamu. Dengarkanlah daripadaku satu kalimah
yang tinggi yang berkumandang dari atas mimbar ini di dalam muktamar umum ini. Sesungguhnya jalan kamu ini adalah yang telah digariskan langkah-langkahnya, ditentukan batas-batasnya dan aku tidak mahu melanggar batas-batas itu. Aku telah yakin dengannya. Keyakinan yang sebenar-benarnya, bahawa itulah jalan yang paling selamat untuk mencapai tujuannya.

Ya... boleh jadi ia satu jalan yang panjang, tetapi di sana tidak ada jalan lain selain itu. Sifat kelakian
tidak akan lahir kecuali dengan keberanian, ketekunan, kesungguhan dan amal usaha yang serius dan
berterusan. Barangsiapa dari kalangan kamu yang hendak cepat dan gopoh memetik buah sebelum masak atau hendak memetik hasil sebelum masanya, maka aku tidak bersama dengannya sama sekali dan lebih baik baginya meninggalkan dakwah ini dan carilah dakwah yang lain.

Barangsiapa yang bersabar bersama aku sehingga berkembang dan membesar benih itu lalu tumbuh pokoknya, baik buahnya sehingga tiba waktunya untuk dipetik dan diambil, maka ganjarannya terserahlah kepada Allah semata-mata. Kita dan dia tidak boleh lari dari dua kebaikan ini. Sama ada kita menang dan berkuasa atau mati syahid dan berbahagia".

(Dari Buku Thariqud Dakwah (Jalan Dakwah) oleh Syaikh Mustafa Masyhur)

Thursday, August 13, 2009

SIRI KHUTBAH PADI: bAGAIMANA RASULULLAH DI BULAN RAMADHAN?

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

Meneladani Manajemen Ramadhan Rasulullah saw.

Senin, 10/08/2009 13:49 WIB
Pernahkan kita bertanya dalam diri : Kenapa di bulan Ramadhan Allah wajibkan kita untuk melaksanakan shaum (menahan diri) selama sebulan penuh dari terbit fajar sampai tenggelam mata hari serta qiyam (berdiri beribadah) di malam hari?

Oleh: Fathuddin Ja'far, MA

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

Tulisan ini terdiri dari :

I. Bulan Sejuta Pesona

II. Keistimewaan Ramadhan

III. Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Ramadhan

IV. Manajemen Ramadhan Rasulullah

V. Taqwa dan Karakteristik Orang-Orang Bertaqwa

VI. Kunci Sukses Training Manajemen Syahwat

I. Bulan Sejuta Pesona

بسم الله و الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه......

Sejak bumi dan langit diciptakan, Allah menetapkan 12 bulan dalam setahun (QS. Attaubah : 36). Itulah perhitungan waktu yang berlaku sepanjang sejarah manusia, sejak Adam hadir ke bumi sampai kiamat terjadi. Satu dari 12 bulan tersebut bernama Ramadhan. Pernahkan kita bertanya dalam diri : Kenapa di bulan Ramadhan Allah wajibkan kita untuk melaksanakan shaum (menahan diri) selama sebulan penuh dari terbit fajar sampai tenggelam mata hari serta qiyam (berdiri beribadah) di malam hari?

Menariknya lagi, setiap tahun Ramadhan datang menemui kita tanpa kita minta. Tanpa diundang ia datang membawa sejuta pesona dan keistimewaan serta memberikan berbagai manfaat dalam hidup dan kehidupan kita. Tujuannya tak lain kecuali agar kita setiap tahun mendapat kesempatan mengikuti Training Manajemen Syahwat secara Cuma-Cuma.

Ramadhan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah pada kita, agar kita dapat kesempatan mengikuti Training Manajemen Syahwat tersebut secara intensif dan berulang-ulang. Hal tersebut disebabkan karena syahwat adalah ancaman permanen terbesar dalam diri orang-orang beriman. Syahwat bisa membinasakan kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Syahwat bisa membutakan mata hati dan pikiran kita sehingga yang haram menjadi halal, yang halal menjadi haram, yang baik menjadi buruk, yang buruk menjadi baik dan seterusnya.

Perlu kita sadari, syahwat akan selalu menjadi ancaman dalan diri kita selama hayat dikandung badan. Sebab itu, kita harus mampu memenej syahwat secara benar, maksimal dan berkesinambungan. Agar kita mampu memenejejnya, di antaranya, Allah syari’atkan pada kita kewajiban mengikuti Training Manajemen Syahwat sebulan dalam setahun. Artinya, seperduabelas (1/12) dari umur kita, khususnya sejak remaja (mukallaf) kita habiskan untuk mengikuti Training Manajemen Syahwat. Subhanallah… Pantas jika target utama shaum Ramadhan itu adalah agar kita meraih derajat tertinggi di sisi-Nya, yakni taqwallah… Artinya, mampu memenej semua aktivitas kehidupan dunia sementara ini sesuai sistem Allah, berpatokan pada halal dan haram yang ditentukan Allah serta terlepas dari tipu daya dunia dan syahwat yang menjerumuskan…

Agar Training Manajemen Syahwat yang diwajibkan selama bulan Ramadhan berkelanjutan sepanjang tahun, maka Rasulullah Saw. membuka peluang training yang sama di hari-hari setelah Ramadhan. Di antaranya, 6 hari di bulan Syawal, mingguan (Senin dan Kamis), bulanan (ayyamul bidh yakni tgl 13, 14 dan 15 setiap bulan Hijriyah), hari Arofah, 10 Muharrom, shiyam Daud (sehari shaum dan sehari berbuka) dan sebagainya.

Orang-orang yang menjalankan dan mengikuti Training Manajemen Syahwat Ramadhan seperti yang disunnahkan Rasul Saw - secara baik dan maksimal - pasti merasakan berbagai manfaatnya dalam kehidupan di dunia, khususnya dalam memenej syahwat secara efektif dan luar biasa. Sebab itu, kebiasaan (habit) dan prilaku hidup di bulan Ramadhan akan mampu mereka teruskan di luar bulan Rmadhan yakni, sampai bertemu Ramadhan berikutnya.

Amat disayangkan bahwa fenomena umum yang muncul dalam masyarakat kita menunjukkan Ramadhan dengan segala keagungan, pesona dan keistimewaannya tidak lebih dari bulan musiman. Musim beramai-ramai ke Masjid, khususnya shalat taraweh. Itupun hanya di hari-hari pertama dan tak bertahan sampai akhir Ramadhan. Musim kreatifitas seni dan budaya yang bernuansa Islam, baik lagu maupun yang yang lain. Musim pengajian, ceramah dan siaran Islam, kendati sebagiannya terkesan dipaksakan dan melanggar nilai-nilai Islam itu sendiri. Musim menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Namun setelah Ramadhan usai, usai pula kebiasaan baik tersebut sehingga jumlah fakir miskin semakin bertambah. Ramadhan juga musim mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai ibadah. Namun setelah Ramadhan pergi, kitapun menjauh dari Allah dan bahkan tak jarang melupakan-Nya. Pokoknya, Ramadhan usai, usai pula semua bentuk ketaatan, ibadah dan kebaikan tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi ialah, Ramadhan dijadikan musim berlomba-lomba mengumpulkan dan memuaskan syahwat makan dan minum. Bulan berlomba-lomba belanja makanan, pakaian dan kendaraan dengan alasan untuk pulang kampung. Akibatnya, untuk mendapat apa yang diinginkan apapun dilakukan tanpa melihat kebersihan sumbernya. Bahkan ada pula dengan niat yang tidak baik seperti yang diceritakan salah seorang sopir taxi di mana tetangganya sengaja mengkredit motor untuk dibawa mudik lebaran dengan niat nganplang. Begitu pula yang dilakukan sebagian pejabat dan politisi, kendati dengan cara yang berbeda. Yang penting mudik lebaran dengan kendaraan baru.

Fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan, berbagai kebaikan dan ketaatan yang dilakukan di bulan Ramadhan hanya sebatas formalitas dan tak jarang pula dimanfaatkan sebagai peluang bisnis mencari kekayaan. Nampak dengan jelas berbagai ketaatan dan kebaikan yang dilakukan belum sampai kepada suatu kesadaran yang datang dari lubuk hati yang dalam (ikhlas karena Allah) serta didasari pemahaman yang benar akan inti, hakikat dan aturan main Ramdahan sehingga menjadi habit (kebiasaan) yang berlanjut setelah Ramadhan usai; sampai bertemu Ramadhan berikutnya.

Jika demikian halnya, pantaslah jika syahwat menjadi masalah besar dalam hidup kita. Prilaku buruk seperti, suka berbohong, bergunjing, hasad (dengki), tamak (rakus) pada pernik-pernik duniawi, menipu, curang, berzina, tidak bisa wara’ (menjaga diri dari makanan dan minuman yang haram dan syubhat), korupsi serta berbagai bentuk kriminal dan amoral lainnya kambuh dan tumbuh subur kembali setelah Ramadhan usai. Karena pada kenyataannya, di bulan Ramadhanlah kita sirami syahwat kita dengan berbagai pupuk yang membuat syahwat menjadi tumbuh subur dalam diri kita. Di bulan Ramadhan kita manjakan syahwat makan, minum, pakaian, tempat tinggal, uang, kendaraan dan berbagai bentuk syahwat angan-angan duniawi lainnya. Akirnya yang tumbuh dan berkembang di bulan yang penuh berkah ini adalah syahwat duniawi, bukannya ketaqwaan pada Allah, kerinduan bertemu dengan-Nya yang menjadi target utama disyaria’tkannya ibadah shaum (puasa) di bulan Ramadhan (QS. Al-Baqoroh : 183).

Akibat negatif lain ialah living cost (biaya hidup) kita menjadi sangat tinggi di bulan Ramadhan. Kebutuhan makanan, pakaian, uang, kendaraan dan sebagainya menjadi meningkat tajam selama bulan Ramadhan. Demand (permintaan) berbagai kebutuhan hidup melonjak tajam sehingga mengakibatkan harga-harga menjadi membubung tinggi yang berefek langsung terhadap bertambahnya kesulitan hidup puluhan juta saudara-saudara kita yang tidak mampu (fakir miskin). Ditambah lagi dengan tradisi pulang kampung dan pesta lebaran yang membutuhkan biaya yang sangat besar dan menimbulkan berbagai masalah, resiko keamanan dan beban berat dalam hidup kita.

Semua hal tersebut di atas terjadi sebagai akibat kita kurang menghayati hal ihwal seputar ibadah Ramadhan serta pelaksanaannya yang melenceng dari format Training Manajemen Syahwat Ramadhan yang disyaria’atkan Allah dan Rasul-Nya. Hasilnya sudah dapat dipastikan melenceng pula dari yang ditargetkan Allah dan Rasul-Nya, yakni menggapai taqwallah, rahmat Allah, maghfirah (ampunan) Allah dan ‘itqun (selamat) dari ancaman neraka Allah. Atau dengan kata lain, pada kenyataanya, Ramadhan telah menumbuh suburkan syahwat kecintaan duniawi kita. Ramadhan melahirkan berbagai kesulitan dalam hidup kita di dunia dan juga memancing kesulitan hidup akhirat, sebagai akibat penyimpangan kita dalam pelaksanaan ibadah Ramadhan atau tidak optimalnya kita dalam menjalankan dan memanfaatkan peluang Tarining Manajemen Syahwat selama Ramadhan.

Keistimewaan Ramadhan

Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan…. Selamat datang wahai Ramadhan…. Itulah yang diucapkan kaum Muslimin di seantero dunia menjelang bulan Ramadhan tiba. Di Indonesia, lebih seru lagi. Ribuan sepanduk menyambut Ramadhanpun tersebar di mana-mana. Bahkan yang amat mencolok ialah tokoh, politisi, seniman, musisi, media dan partai-partai politik yang tidak care dengan Islampun, dan bahkan memusuhi prinsip-prinsip dan ajaran Islam tak mau ketinggalan menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah ini melalu berbagai acara, program, spanduk, iklan dan pamphlet – jadwal imsakiyah Ramadhan-, media cetak maupun elektronik. Hal tersebut mereka lakukan dengan harapan memperoleh berkah (materi dan ketenaran) di Bulan Ramadhan. Bagi para politisi dan partai politik, tentu dengan harapan memperoleh berkah (dukungan kaum Muslimin), khususnya pada Pemilu 2009 yang baru lalu.

Bagi para politis Islam dan partai-partai yang selama ini menyuarakan Islam atau atas nama Islam, mereka merasa panen keberkahan di bulan Ramadhan. Berbagai ungkapan dan istilah dikeluarkan melalui spanduk, iklan, pamflet dan bahkan jadwal imsakiyah Ramadhan. Semua itu tak terlepas dari ajang kampanye dan promosi dengan menempelkan di atasnya foto-foto diri mereka yang menggelikan sambil menyebut Caleg DPR RI/DPRD dari daerah pilihan (Dapil) ini dan itu. Seorang teman melihat kenyataan ini berkata : Beginikah Rasulullah mengajarkan manajemen Ramadhan pada umatnya?

Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan adalah sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya. Ungkapan yang mencerminkan penghormatan luar biasa bagaikan menyambut kedatangan tamu yang amat sangat mulia. Memang demikianlah halnya. Ramadhan dengan segala aktivitasnya adalah momentum terbaik mengikuti Training Manajemen Syahwat bagi orang-orang beriman. Ramadhan adalah bulan kemenangan hamba mukmin jika dia berhasil memperoleh kasih sayang, ampunan dan jaminan keselamatan dari neraka dari Allah Rabbul ‘Alamin.

Dalam bait sya’ir yang dilantunkan dalam sebuah nayid tertulis : Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan…. Syarrafta yaa syahral qur’an… Selamat datang wahai bulan Ramadhan… Kedatanganmu membawa kemuliaan, wahai bulan Al-Qur’an… Ramadhan adalah bulan berinteraksi dengan Al-qur’an secata intensif dan maksimal dimulai dari membacanya, memahaminya, mengamalkannya, menghafalnya dan menyebarluaskan ajarannya.

Ramadhan bukan bulan promosi dari, partai, kelompok dan momentum berlomba-lomba meraih kekuasaan dan kepentingan dunia lainnya? Melainkan bulan limpahan rahmah (kasih sayang), maghfirah, dan ‘itqun minannar (terlepas dari api neraka) di akhirat kelak. Itulah yang dirasakan Salafush-shalih generasi pertama umat Islam. Mereka merasakan efektifitas amaliyah Ramadhan sepanjang tahun. Setelah enam bulan melewati Ramadhan ,mereka meminta dan berdo’a kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya.

Semua yang dilansir di atas adalah cerminan salah kaprah dalam menyambut dan menjalankan amaliah (aktivitas) Ramadhan. Agar kita terhindar dari salah kaprah tersebut, perlu kita renungkan dan camkan beberapa keistimewaan Ramadhan seperti yang dijelaskan Allah dan Rasul Muhammad Saw berikut :

  1. Ramadhan adalah waktu termahal dalam hidup kita yang datang setiap tahun tanpa diundang. Di dalamnya terdapat satu malam lebih baik dari 1.000 bulan. Malam itu dinamakan Allah dengan Lailatul Qadr (Q.S.Al-Qadr : 1- 5). Waktunya adalah pada 10 hari terakhir Ramadhan, seperti yang diisyaratkan Rasul Saw dalam beberpa haditsnya.
  2. Ramadhan dengan segala aktivitasnya, khususnya shaum (puasa) adalah kesempatan emas untuk mengikuti Training Manajemen Syahwat dan disiplin tinggi dalam hidup melalui berbagai ibadah yang kita lakukan baik di siang hari maupun di malamnya. Dalam hadits riwayat imam Bukhari dijelaskan, Rasulullah bersabada : Shaum adalah perisai. Jika salah seorang di antara kamu sedang shaum, maka janganlah berkata kotor dan berprilaku buruk. Jika ada orang yang memancingmu untu keributan atau mencacimu maka katakanlah : Saya ini sedang puasa, dua kali. Demi Dzat yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari wangi kasturi. Dia telah meninggalkan makan, minum dan syahwatnya demi Aku (Allah). Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan satu kebaikan akan dibalas menjadi sepuluh kali lipat. (H.R. Imam Bukhari)
  3. Ramadhan adalah bulan bertabur rahmah dan berkah. Ramadhan momentum terbaik untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri pada Allah), kembali ke jalan Allah dan bertaubat atas segala dosa, kesalahan dan kelemahan. Karena di bulan ini pintu syurga Allah buka selebar-lebarnya, pintu neraka Dia tutup serapat-rapatnya dan setan-setan dibelenggu-Nya. (H.R Imam Baihaqi, Ahmad dan Nasa’i). Oleh sebab itu, berbuat kebaikan dan ketaatan di bulan Ramadhan terasa lebih mudah dibanding dengan bulan-bulan lain.
  4. Ramadhan dengan segala aktivitasnya adalah momentum termahal untuk meraih kesehatan ruhiyyah (spiritual), sulukiyah (prilaku) dan juga kesehatan jasadiyah (fisik). Telah banyak dilakukan penelitian oleh para pakar tentang pengaruh shaum terhadap kesehatan bagi yang melakukannya. Di antaranya seperti yang dikatakan oleh Dr Abdul Jawad As-Shawi, pakar ilmu kesehatan pada Lembaga Pengkajian Scientific dalam Al-Qur’an dan Assunnah yang berkantor pusat di Makkah, bahwa manfaat shaum di bulan Ramadhan bukan hanya bagi yang melakukannya saat berada di negerinya (muqim), tapi juga termasuk yang musafir, orang tua yang berat baginya berpuasa. Inilah rahasia mukjizat Al-Qur’an yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh ayat 184 di mana Allah mencantumkan “ Dan jika kamu shaum adalah khair (lebih baik) bagimu. Kata Khair dalam bahasa Arab adalah superlative degree (isim tafdhil) mencakup kebaikan kesehatan jiwa dan kebahagian di dunia dan akhirat. Sebab itu, Allah tutup ayat tersebut dengan “ Jika kamu mengetahuinya”.
  5. Orang-orang yang shaum akan memperoleh dua kegembiraan. Pertama, di dunia yakni saat berbuka dan kedua di akhirat, yakni saat ia bertemu Allah di syurga. (HR. Muslim)
  6. Shaum itu akan memberi syafaat (rekomendasi kuat) di akhirat bagi yang melakukannya. Dari Abdullah Bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Saw berkata : Shaum dan Al-Qur’an member syafa’at bagi hamba (yang melakukan dan membacanya) pada hari kiamat nanti. Shum berkata : Ya Robbb… Saya larang dia dari makanan dan syahwat di siang hari, maka berilah dia syafa’at. Lalu Al-Qur’an berkata : Saya larang dia tidur di malam hari, maka berilah dia. Maka keduanya (Shaum dan Al-Qur’an) diizinkan Allah menjadi syafaat baginya. (HR. Ahmad)

Friday, August 7, 2009

SIRI KHUTBAH PADI: .ISRA' MI'RAJ.

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

7 OGOS

Pelajaran Isra’ dan Mi’raj

25/7/2008 | 22 Rajab 1429 H | Hits: 11,478
Oleh: Ibnu Jarir, Lc

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. والحمد لله حمدا الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. أما بعد..فيأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل وتمسك بهذا الدين تمسكا قويا والاستقامة في سبيله حتى يأتينا اليقين.

الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (10) مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (11) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (12) وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16)

dakwatuna.com - “Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” Al-Isra: 1

“Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” An-najm: 10-16

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tidak terasa bahwa kita sudah berada di bulan Rajab yang mulia, berarti beberapa bulan ke depan kita akan bersua kembali dengan bulan yang penuh berkah, Ramadhan Al-Mubarak. Di mulai dari bulan Rajab inilah Rasulullah mempersiapkan diri dan keluarganya untuk menyambut kedatangan tamu agung Ramadhan dengan berbagai persiapan istimewa demi menggapai kesempurnaan dan kebaikan Allah swt. yang berlimpah ruah. Dengan berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami berjumpa dengan bulan Ramadhan.”

Salah satu peristiwa besar yang hanya terjadi sekali seumur kehidupan manusia adalah peristiwa isra dan mi’raj Rasulullah saw. Isra’ berarti perjalanan Rasulullah di malam hari dari Masjdil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan mi’raj berarti dinaikannya Rasulullah menghadap Allah di sidratil muntaha.

Peristiwa yang maha agung ini menunjukkan keagungan Rasul yang terpilih untuk menjadi subjek dalam peristiwa ini. Dalam beberapa riwayat, Rasuullah bahkan menjadi imam sholat bagi seluruh para nabi sebelumnya. Keagungan Rasul ini tentu menjadi kebanggaan dan kebahagian kita selaku umatnya dengan tetap mempertahankan dan memelihara kemuliaan tersebut dalam kehidupan kita. Jika tidak, maka berarti kita telah mengotori kemuliaan tersebut. Apalagi dengan sengaja menyalahi aturan dan sunnahnya. Na’udzu biLlah.

Peristiwa isra’ dan mi’raj diabadikan oleh Al-Qur’an dalam surah yang dinamakan dengan peristiwa tersebut, yaitu surah Al-Isra’. Bahkan peristiwa inilah yang mengawali surah ini. Simaklah firman Allah swt.:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’: 1).

Dalam riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah senantiasa membaca surah ini bersama surah Az-Zumar pada malam hari.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sudut pandang tentang isra’ dan mi’raj memang bisa beragam; dari kacamata akidah, isra mi’raj mengajarkan tentang kekuasaan Allah swt. yang tidak terhingga.

Dari sudut pandang sains, mengajarkan bagaimana dunia keilmuan masih menyisakan teori ilmiah yang belum terkuak. Benarkan pernyataan tulus para malaikat Allah swt: “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (2:32).

Dari sudut pandang moralitas, peristiwa ini mengajarkan bagaimana adab dan akhlak seorang hamba kepada Khaliqnya. Sungguh beragamnya sudut pandang ini menunjukkan keagungan peristiwa yang hanya sekali terjadi sepanjang kehidupan manusia, dan hanya terjadi kepada seorang insan pilihan, Rasulullah saw.

Sayyid Quthb menafsirkan ayat pertama dari surah Al-Isra ini dengan menyebutkan bahwa ungkapan tasbih yang mengawali peristiwa ini menujukkan keagungannya, karena tasbih diucapkan manakala menyaksikan atau melihat sesuatu yang luar bisa yang hanya mampu dilakukan oleh Dzat yang Maha Kuasa. Sedangkan lafadz “bi’abdihi” adalah untuk mengingatkan status manusia (Rasulullah) dengan anugerahnya yang bisa mencapai maqam tertinggi sidratul muntaha, agar ia tetap sadar akan kedudukanya sebagai manusia meskipun dengan penghargaan dan kedudukan yang tertinggi sekalipun yang tidak akan pernah dicapai oleh seluruh manusia sampai hari kiamat.

Allah swt. memilih perjalanan isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah karena ada ikatan ideologis yang sangat erat; antara akidah Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad saw. Disamping ikatan kemasjidan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam konteks keutamaannya. Rasulullah mengingatkan:

“Tidak dianjurkan mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid; Masjid Haram di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Aqsha di Palestina.” (Bukhari).

Ini juga untuk mengingatkan umat Islam semua bahwa hubungan ideologis antara seluruh umat Islam dengan Palestina tidak boleh padam dan harus terus diperjuangkan.

بارك الله لنا ولكم في القرآن العظيم ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم و نستغفر الله فإنه غفور رحيم

Friday, July 31, 2009

SIRI KHUTBAH JUMAAT- TV DAN KESANNYA?

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

1 OGOS..

Saya mohon maaf kepada sdr sdri yang ingin memberi komentar dan mengkaitkan blog sdr sdri dari blog kami dengan penuh harapan agar dapat menghormati idealisma dan visi misi perjuangan yang bersih. Saya tidak bermaksud menghina sesiapa tetapi inilah realiti yang ada. Semoga sdr sdri yang ingin melepaskan geram sila emelkan saja supaya tidak mencacatkan kemurniaan ilmu dari blog ini. Apatah lagi jika komentar terhadap bahan khutbah ini...!!! Terima kasih atas perhatiannya!!

Sikap Terhadap Tayangan Televisi

12/6/2009 | 18 Jumadil Akhir 1430 H | Hits: 2,317
Oleh: Thalhah Nuhin, Lc.

الحمد لله الذي بعث النبيين مبشرين ومنذرين وأنزل معهم الكتاب بالحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه وما اختلف فيه إلا الذين أوتوه من بعد ما جاءتهم البينات بغيا بينهم فهدى الله الذين آمنوا لما اختلفوا فيه من الحق بإذنه والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له كما شهد هو سبحانه وتعالى أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي ختم به أنبياءه وهدى به أولياءه ونعته بقوله في القرآن الكريم لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم فإن تولوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم وصلى الله عليه وعلى آله أفضل صلاة وأفضل تسليم أما بعد….
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6)
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (60)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Rabb Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Pengasih tanpa pilih kasih dan Tuhan Yang Maha Penyayang tanpa pandang sayang. Akhirnya, kita semua dalam hari yang mulya ini, hari yang penuh berkah ini dan hari yang agung ini, masih mampu merespon nida rabbani (seruan Allah) dalam surat Jumat ayat 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Semoga dengan limpahan karunia dan nikmat yang masih kita rasakan sampai saat ini, bisa kita jadikan kembali sebagai sarana kehidupan kita menuju penguatan kualitas ketakwaan, pengokohan keimanan yang bersemayam dalam diri kita dan untuk membangun amal-amal unggulan dalam lembaran sejarah kehidupan kita yang fana ini.

Dampak Teknologi Informasi

Televisi

Televisi (abc.net.au)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…..

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, lembaran kehidupan manusia tidak pernah lepas dan selalu diwarnai nilai-nilai yang lahir dari produk-produknya seperti media elektronik, media komunikasi dan dunia maya; internet. Produk-produk ini menjadi aksesoris yang sangat penting, tidak hanya menghiasi rumah dan perkantoran, akan tetapi juga melekat dengan diri mereka. Bagi seorang muslim, semua ini harus bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun kesalehan diri, memperbaiki citra diri dan untuk mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Sehingga masuk dalam katagori hadits Rasulullah SAW berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. رواه الترمذي

Dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sebagian kebaikan Isalamnya seseorang bila meninggalkan apa-apa yang tidak berfaedah”. HR Imam At-Tirmidzi, hadits gharib.

Bahaya Televisi

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Pertanyaannya; apakah produk-produk ini berbahaya bagi kehidupan kita? Apakah hal ini bertentangan dengan makan ibadah yang merupakan tujuan kehidupan ini? Dan apakah sangat bermanfaat bagi kita untuk memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan sepanjang kita bisa dan mampu mengelolanya? Coba kita renungkan sejenak hasil survey tayangan televisi:

“Benjamin Olken, ekonom dari MIT, beberapa tahun lalu pernah meneliti pengaruh televisi di kalangan rumah tangga Indonesia. Kita tahu bahwa pulau Jawa adalah daratan yang terdiri dari sejumlah gunung dan dataran tinggi. Akibatnya ada wilayah yang mendapatkan sinyal televisi bagus namun ada juga yang terperangkap bayangan dataran tinggi sehingga penerimaan sinyalnya terbatas.

Olken mensurvei lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta membandingkan antara desa yang bisa menjangkau sedikit dengan desa yang bisa menerima banyak saluran televisi. Hasilnya cukup menarik. Setiap bertambah satu channel televisi yang bisa dilihat, maka rata-rata mereka menonton televisi lebih tujuh menit lebih lama. Ketika survei ini dilakukan, hanya ada 7 stasiun televisi nasional. Kalau survei tersebut dilakukan saat ini, bisa jadi waktunya akan bertambah besar.

Temuan lain yang tak kalah menarik adalah di pedesaan dengan penerimaan sinyal televisi yang lebih bagus menunjukkan adanya tingkat partisipasi kegiatan sosial yang lebih rendah. Artinya, orang lebih suka menonton televisi daripada terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Lebih dari itu, di pedesaan tersebut juga terlihat adanya tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi di antara penduduk yang berakibat pada lesunya kerjasama perekonomian dan perdagangan.”(Pengaruh Televisi Bagi Masyarakat Indonesia, Nofie Iman)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Kemajuan teknologi informasi bisa berdampak positif atau negative. Hal ini sangat tergantung pada penggunanya. Apakah mereka akan memanfaatkan sisi positifnya atau sebaliknya. Sebagaimana tergambar dari hasil survey di atas. Yaitu rendahnya tingkat partisipasi social dari orang-orang yang suka menonton televise karena terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan televisi tanpa harus memilah dan memilih acara atau program yang bermanfaat.

Bisa kita simpulkan tentang bahaya televisi bila tidak dikelola dengan management yang islami sebagai berikut:

Pertama; sarana ghazwul fikri (perang pemikiran) dan merusak akhlak

Kedua; sarana sosialisasi budaya permisif, konsumtif, matrialis dan hedonis

Ketiga; sarana menghabiskan waktu untuk yang tidak berfaedah

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Tiga hal ini bisa muncul bila yang mengelola media elektronik adalah orang yang hanya bertujuan untuk mengejar keuntungan tanpa memperhatikan sisi education. Dan juga orang-orang yang mempunyai tujuan untuk merusak moral anak bangsa dan menjauhkan pemuda dari nilai-nilai agama. Maka yang muncul di layar televisi, internet dan media elektronik lainnya, hanyalah program-program yang berbau pornografi, mendorong hubungan bebas, budaya hidup permisif dan matrialis. Coba kita renungkan apa yang pernah diserukan oleh Samuel Zuemer di hadapan para misionaris pada tahun 1935 di Al-Quds: “Tujuan kalian bukan untuk mengeluarkan mereka dari agamanya, akan tetapi memutuskan hubungan dari tali agama sehingga tidak memiliki ikatan akhlak yang kuat…”

Sikap Kita Terhadap televisi

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Dalam mengisi kehidupan yang fana ini, perlunya kita memperhatikan kembali citra diri dan keluarga berkaitan dengan media elektronik. Karena bukan hanya diri kita yang dituntut untuk menjadi pribadi yang mempesona, akan tetapi juga istri dan anak-anak kita. Itulah yang ditegaskan Allah SWT dalam salah satu ayatnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6)

Berangkat dari perenungan ayat ini, maka kita harus bersikap yang benar terhadap beragam tayangan televise. Agar kita benar-benar bisa menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang tidak berfaedah yang berujung pada kerugian besar. Semoga kita masih memiliki rasa malu dalam mensikapi berwarna-warni tayangan televisi. Tidak membiasakan menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV tanpa memilah dan memilih program yang berfaedah dan bermakna bagi kehidupan keluarga. Wabil khusus berkaitan dengan anak-anak kita. Rasulullah SAW bersabda:

عن ابن مسعود مرفوعاً : (( الاستحياء من الله تعالى أنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وما حَوَى ، وتَحفَظَ البَطنَ وما وَعَى ، ولْتَذْكُرِ الموتَ والبِلى، فمن فَعَل ذلك ، فقد استحيَى من الله حقَّ الحياء ))(رواه الترمذي) .

Dari Ibnu Mas’ud ra –secara marfu’-: “Rasa malu kepada Allah SWT bila kamu menjaga kepala dan isinya, perut dan yang di dalamnya dan hendaklah kamu mengingat kematian dan kehancuran. Maka barang siapa yang melakukan itu, sungguh dia telah memiliki rasa malu yang sebenarnya kepada Allah” HR Imam At-Tirmidzi

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Jadi, yang perlu kita perhatikan pada tayangan dan program TV adalah:

Pertama; Memilah dan memilih program yang bermanfaat dan memiliki nilai education. Jangan sampai kita membiarkan diri kita larut dalam pilihan yang salah bahkan menjerumuskan anak-anak kita. Orang tua harus mendampingi anak-anak dalam menikmati tayangan TV. Tidak hanya mendampingi saja, tapi mengarahkan kepada hal-hal yang baik dan benar untuk masa depannya. Jangan sampai menjadi generasi yang mengabaikan ibadah dan mengikuti hawa nafsunya. Apalagi sangat banyak tanyangan sinetron yang tidak mendidik para pemuda, bahkan menjerumuskan mereka untuk mengikuti dan menteladani hal-hal yang mengarah pada dekadensi moral. Allah SWT berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (60)

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (QS. Maryam: 59-60)

Kedua; Memperhatikan waktu secara tepat. Jangan sampai ada satuan waktu yang berlalu tanpa ada satuan kebaikan yang terbangun. Jangan biarkan Waktu-waktu kita berlalu dengan tayangan-tayangan gossip, ghibah, pornografi dan pornoaksi.

إذا تكلمتَ فاذْكُر سَمعَ اللهِ لك ، وإذا سكتَّ فاذكر نظره إليك. )روي هذا القول عن أحمد بن منيع ، وروي عن الربيع بن خثيم ، وروي عن حاتم الأصم . انظر : سير أعلام النبلاء 11/485 ، وصفة الصفوة 3/68 و4/162(

Orang bijak berkata: “Apabila kamu bicara, ingatlah bahwa Allah SWT mendengar kamu dan apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Dia melihatmu.” (dari Imam Ahmad bin Mani’, Ar-Rabi’ bin Khutsaim dan Hatim Al-Asham, lihat Siar A’laam An-Nubalaa: 11/485, shifat Ash-Shofwah: 3/68 & 4/162)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Semoga kita tetap istiqamah dan menjadi hamba-hambanya yang sholeh. Senantiasa mempesona dengan nilai-nilai Islam di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Wallahu a’lam.

Thursday, July 16, 2009

Siri Khutbah: BUDAYA SALING MEMBERI NASIHAT..

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

17 julai

Budaya Saling Memberi Nasehat

11/4/2008 | 04 Rabiuts Tsani 1429 H | Hits: 5,704
Oleh: Izzuddin Abdul Majid, Lc.

الحمد لله الذي فتح لعباده طريق الفلاح وأرشدهم إلى ما فيه الخير و البر و التقى وأمرهم بالتناصح على الحق وجعل أمرهم شورى بينهم ليتحقق لهم الفوز والنجاة . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده والصلاة و السلام على محمد عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد،، فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “

dakwatuna.com - Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Sering kita dengar dari keterangan dan penjelasan para ulama, para kiayi, ustazd, dan muballigh bahwa tugas paling penting dari para Rasul adalah menyampaikan risalah Allah swt. kepada ummat manusia. Urgensi isi risalah para rasul itu sama, yaitu “agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan mengingkari semua bentuk sesembahan selain Allah (thaghut).”

Ternyata selain tugas mulia dan suci ini, para nabi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemberi nasehat. Hal ini disebabkan karena manusia tidak cukup hanya menerima risalah dakwah Islam saja. Akan tetapi juga membutuhkan pemberi nasehat dan peringatan dalam hidupnya, karena manusia adalah mahluk pelupa dan pelalai, bahkan makhluk yang banyak berbuat kesalahan. Oleh karena itu, Allah swt. menyatakan:

Wal ashri, innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish-shabri.

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr)

Semangat surat Al-Asr ini menjelaskan keharusan setiap orang untuk beriman dan beramal sholeh, jika ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan iman dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Sedemikian pentingnya prinsip “saling memberi nasehat” dalam ajaran Islam, maka setiap manusia pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun dia hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa “saling memberi menasihat “ adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.
Namun sangatlah disayangkan jika ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, sudah berpengalaman sehingga tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain. Padahal dengan menerima nasehat dari orang lain pertanda adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan menunjukkan kelebihan pada orang tersebut.

Kalimat “nasaha” yang artinya nasehat, makna dasarnya adalah menjahit atau menambal dari pakaian yang sobek atau berlubang. Maka orang yang menerima nasehat artinya orang tersebut siap untuk ditutupi kekeruangan, kesalahan, dan aib yang ada pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau menerima nasehat menunjukkan adanya sifat kesombongan, keangkuhan, dan ketertutupan pada orang tersebut.

Saking sedemikian pentingnya nasehat ini, Nabi saw. bersabda:

عن أَبي رُقَيَّةَ تَمِيم بن أوس الداريِّ – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ((2)) )) رواه مسلم

Dari Abi Amer atau Abi Amrah Abdullah, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan orang-orang biasa.” (HR. Muslim)

Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa memberi dan menerima nasehat adalah berlaku untuk manusia, siapapun dia, apapun kedudukan dan jabatannya, tanpa kecuali.

Hadist di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa agama akan tegak manakala tegak pula sendi-sendinya. Sendi-sendi itu adalah saling menasehati dan saling mengingatkan antara sesama muslim dalam keimanan kepada Allah, keimanan kepada Rasul, dan keimanan kepada Kitab-Nya. Artinya, agar kita selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dari Allah dan Kitab-Nya dan mentauladani sunah-sunah Rasul-Nya.

Sedangkan bentuk nasehat kepada para pemimpin adalah ketaatan dan dukungan kita sebagai rakyat kepada para pemimpin Islam dalam menegakkan kebenaran, mengingatkan mereka jika lalai dan menyimpang dengan cara yang bijak dan kelembutan, meluruskan mereka jika menyimpang dan salah. Sedangkan nasehat untuk orang-orang biasa adalah dengan memberi kasih sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan hajat mereka, menjauhkan hal yang merugikan mereka dan sebagainya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Di dalam Al-Qur’an, Allah swt. mengisahkan tentang bagainama Nabi Musa a.s., seorang nabi dan rasul yang ternyata dapat menerima nasehat dari salah seorang kaumnya.

wa jaa-a rajulun min aqshal madinati yas’aa, qaala yaa muusaa innal mala-a ya’tamiruuna bika liyaqtuluuka, fakhruj innii laka minan nashihiin. Fakharaja minhaa khaa-ifan yataraqqabu, qaala rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” (QS. Al-Qashash: 20-21)

Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa yang bukan Nabi dan Rasul? Sudah barang tentu sangatlah membutuhkan nasehat. Kita senantiasa membutuhkan nasehat dari orang lain. Demikian juga harus bersedia memberi nasehat kepada orang lain yang memohon nasehat kepada kita.

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : وفي رواية لمسلم : (( حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ )) .

Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: jika berjumpa hendaklah memberi salam; jika mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; jika memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; jika sakit, jenguklah ia; dan jika meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya.” (HR. Muslim)

Dengan saling menasehati antara kita, maka akan banyak kita peroleh hikmah dan manfaat dalam kehidupan kita. Akan banyak kita temukan solusi dari berbagai persoalan, baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat bangsa bahkan Negara.

Karenanya nasehat itu sangatlah diperlukan untuk menutupi kekurangan dan aib yang ada di antara kita. Karena nasehat itu dapat memberi keuntungan dan keselamatan bagi yang ikhlas menerima dan menjalankannya. Karena saling menasehati itu dapat melunakkan hati dan mendekatkan hubungan antara kita. Karena satu sama lain di antara kita saling membutuhkannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Saling menasehati antara sesama muslim terasa semakin kita perlukan, terutama ketika tersebar upaya menfitnah adu domba antara sesama muslim yang datang dari orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam sebagai penduduk terbesar negeri ini. Mereka tidak senang terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam.

Demikian pula ketika mendekati hari-hari menjelang pesta demokasi seperti pilkada, pilgub, pemilihan umum, dan sebagainya. Terkadang panasnya suhu politik menyulut sikap orang in-rasional (tidak rasional) dan emosi di tengah masa, bahkan dapat mengarah ke sikap anarkhis dan merusak.

Dalam situasi seperti itu, kita sering lupa akan makna ukhuwah Islam. Lupa tugas amar ma’ruf nahi mungkar dan lupa tugas dan kewajiban untuk saling menasehati dengan cara saling kasih sayang antara kita.

Semoga Allah swt. senantiasa memberikan pemahaman kepada kita akan arti pentingnya saling memberi nasehat antara kita. Semoga kita mampu memberi nasehat dan senang menerima nasehat dari siapapun, selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran dan kabaikan, sehingga kita dapat terhindarkan dari bahaya adu domba dan fitnah yang dapat memecah belah umat Islam, masyarakat, bangsa, dan Negara. Barakallu lii walakum….

Thursday, July 9, 2009

SIRI KHUTBAH: ISTIQAMAH DALAM KEHIDUPAN...

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

Siri khutbah..
Thalhah Nuhin, Lc.

Istiqamah Dalam Kehidupan

10/7/2008 | 07 Rajab 1429 H | Hits: 22,176
Oleh: Thalhah Nuhin, Lc.

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
أما بعد..فيأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل وتمسك بهذا الدين تمسكا قويا والاستقامة في سبيله حتى يأتينا اليقين.
يقول الله:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ، وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ، وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ، وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ،

dakwatuna.com - Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran:102-103)

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (Hud:112-115)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah……

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, ia harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena ummat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu meimplementasikan dalam seluruh kisi-kisi kehidupannya. Dan orang yang mamupu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitment dan istiqamah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.

Jama’ah Shalat Jum’at Yang Dimuliakan Allah….

Istiqamah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Secara terminology, istiqomah bisa diartikan dengan beberpa pengertian berikut ini;

- Abu Bakar Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab; bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)

- Umar bin Khattab r.a. berkata: “Istiqamah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipu musang”

- Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqamah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”

- Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”

- Hasan Bashri berkata: “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”

- Mujahid berkata: “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”

- Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepaada-Nya tanpa menengok kiri kanan”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Jadi muslim yang beristiqamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Ia bak batu karang yang tegar mengahadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degredasi dalam perjalanan hidupnya. Ia senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam. Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Itulah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan kehidupan. Allah berfirman;

“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya karena kekufuran) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am:122)

“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Hud:112)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialahAllah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak adakekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.(Al-Ahqaf:13-14)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…..

5 Tips Istiqamah

Kesucian dan ketakwaan yang ada dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap muslim. Hal ini disebabkan kesucian dan ketakwaan ini bisa mengalami pelarutan, atau bahkan hilang sama sekali. Namun, ada beberapa tips yang membuat seorang muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya. Tips tersebut adalah sebagai berikut;

Pertama, Muraqabah

Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan kontrol ilahi dan kedekatan dirinya kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid: 4)

Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (H.R. Bukhari)

Kedua, Mu’ahadah

Mu’ahadah yang dimaksud di sini adalah iltizamnya seorang atas nilai-nilai kebenaran Islam. Hal ini dilakukan kerena ia telah berafiliasi dengannya dan berikrar di hadapan Allah SWT.

Ada banyak ayat yang berkaitan dengan masalah ini, di antaranya adalah sebagai berikut.

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (An-Nahl: 91)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal: 27)

Ketiga, Muhasabah

Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (H.R. Ahmad)

Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”

Keempat, Mu’aqabah

Mu’aqabah adalah pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya.

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)

Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan yang baik kepada kita dalam masalah ketakwaan, muhasabah, mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa contoh di bawah ini.

1. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

2. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.

Kelima Mujahadah (Optimalisasi)

Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (Al-Hajj: 77-78)

“Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.’” (H.R. Bukhari-Muslim)

Inilah lima langkah yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang ingin mempertahankan nilai keimanan, yang ingin bertahan dan istiqamah di puncak ketakwaannya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal dan akhirnya kita dijanjikan surga-Nya.amin.

بارك الله لنا ولكم في القرآن العظيم ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم و نستغفر الله فإنه غفور رحيم

Friday, June 19, 2009

KHUTBAH MINGGUAN - "Kaedah Memilih Pemimpin menurut Islam"

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

19 Jun

Kaedah Memilih Pemimpin

17/6/2009 | 23 Jumadil Akhir 1430 H | Hits: 559
Oleh: Tim dakwatuna.com
Diadun semula: PADI (pusat dakwah dan tarbiah Ikrar)

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي يُنِيْرُ بِالْهُدَى دُرُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ أُوْصِى نَفْسِى وَإِيَاكُمْ بِالتَّقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ فِي تَنْـزِيْلِهِ:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ، وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia,

Arti dari ayat yang baru saja kita dengar adalah:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah (cobaan) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Al-Anfal: 27-28)

Kedua ayat ini, zahirnya, berisi larangan kepada orang-orang yang beriman agar tidak mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadanya, dan sejatinya harta dan anak-anak kita adalah bagian dari amanat tersebut yag tak boleh kita sia-siakan, jika kita benar-benar berharap pahala yang besar di sisi Allah swt. Yang sungguh menarik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rahimahuLlah - berargumen dengan ayat ini atas kewajiban setiap orang yang memiliki kewenangan memilih pejabat, baik pejabat eksekutif, legislatif maupun yudikatif, bahkan pejabat militer dan lainnya, agar tidak gegabah dalam menentukan pilihannya. Orang yang memiliki kewenangan untuk memilih pejabat, hendaknya ia memilih orang yang terbaik dan paling tepat untuk jabatan yang akan diembannya, dari sekian banyak kandidat yang ada. Barangsiapa yang memberikan jabatan kepada seseorang semata-mata didasari atas relasi kekerabatan, nasab, teman, suku, ras, aliran atau karena disuap dengan harta atau keuntungan lainnya, atau karena ketidaksukaannya kepada orang yang semestinya berhak menerima jabatan tersebut, maka ia telah mengkhianati amanat Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman (as-Siyaasah asy-Syar’iyah: 14).

Ibnu Taimiyah melanjutkan, biasanya, seseorang karena motivasi kecintaan kepada anaknya, maka ia memilihnya atau memberinya sesuatu yang bukan haknya. Ada juga orang, yang karena ingin menambah kekayaan atau demi mengamankan usahanya ia berkolusi untuk jabatan-jabatan tertentu. Orang yang berlaku demikian, kata ulama yang lebih dikenal dengan syaikhul Islam ini, telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, juga mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadanya (ibid. hal: 15).

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari berbagai mazhab Islam, bahwa memilih pemimpin atau mengangkat pejabat untuk suatu jabatan tertentu demi kemaslahatan kaum muslimin, hukumnya adalah wajib (al Imamah, al Aamidy: 70-71). Karena keberadaan seorang pemimpin, dalam pandangan Islam, berfungsi untuk menegakkan agama Allah serta untuk menyiasati dan mengatur urusan duniawi masyarakat dengan mengacu kepada agama (Muqadimah Ibnu Khaldun: 211).

Lebih tegas lagi, Imam Ibnu Taimiyah menyatakan, bahwa fungsi jabatan apapun di dalam Islam bertujuan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini berlaku untuk jabatan tertinggi dan jabatan tinggi negara, seperti presiden, panglima perang, kepala kepolisian, direktur bank dan lain sebagainya., sampai jabatan terendah seperti pimpinan rombongan dalam sebuah perjalanan. (al Hisbah: 8-14).

Jabatan merupakan amanah yang harus ditunaikan sebaik-baiknya karena ia akan dipertanggungjawabkan di dunia kepada rakyat, dan kepada Allah kelak di akhirat. Rasulullah saw. pernah mengingatkan Abu Dzar ra. yang sempat meminta jabatan. Beliau katakan, “Sesungguhnya jabatan ini adalah amanah dan sesungguhnya di akhirat akan menyebabkan kekecewaan dan penyesalan, kecuali bagi yang berhak menerimanya dan mampu menunaikan tugas sebagaimana mestinya” (HR. Muslim, no:1826).

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Terdapat beberapa indikator di dalam Al-qur’an, sebagai acuan kita dalam memilih pemimpin. Pertama, bahwa seorang kandidat harus memiliki track record yang baik sebelum ia diangkat sebagai pemimpin, ia memiliki misi dan visi yang mulia untuk menyelamatkan bangsanya dari keterpurukan dan keterbelakangan di segala sektor kehidupan. Hal ini diisyaratkan ketika Allah swt. mengangkat nabi Ibrahim as. sebagai pemimpin bagi seluruh manusia, karena prestasinya yang luar biasa dalam menunaikan misi yang diembannya. Ibrahim dinilai berhasil dalam berdakwah menegakkan tauhid dan mengembalikan loyalitas dan kepatuhan manusia kepada aturan Allah semata. Sejak remaja, ketika ia berhasil menumbangkan berhala-berhala lalu ia dibakar hidup-hidup, hingga usianya yang senja, ketika diuji agar menyembelih putranya, Ismail, dan membangun Ka’bah sebagai lambang kemurnian tauhid, Ibrahim tetap konsisten dalam memegang idealismenya, yakni membawa misi dakwah kerahmatan untuk alam semesta. Namun ketika Ibrahim memohon agar Allah berkenan mengangkat anak keturunannya sebagai pemimpin seperti dirinya, Allah pun menjawab, bahwa tidak boleh orang-orang yang zalim duduk di atas kursi kekuasaan (QS. Al-Baqarah: 124). Karena yang paling berhak menjadi pemimpin hanyalah orang-orang yang shaleh (QS. Al-Anbiya: 105). Tampilnya orang-orang zalim di atas panggung kekuasaan, lebih dikarenakan lemahnya orang-orang shaleh. Tepatlah ucapan khalifah Umar bin Khatthab ra. dalam sebuah do’anya, “Ya Allah, ku mengeluh kepada-Mu, mengapa sang pendosa memiliki kekuatan sedang orang yang terpercaya seringkali lemah” (al Hisbah: 15).

Kedua, kita harus mengangkat pemimpin yang seiman. Allah berfirman, “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai wali (pemimpin, teman dekat, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang beriman. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka..” (QS. Ali Imran: 28).

Ketiga, memilih pemimpin juga harus memperhatikan asal-usul kelompok, partai, dan relasi-relasi dekat sang kandidat. Karena betapapun bersih dan keshalihan sang calon, apabila ia berada dalam lingkaran pertemanan, kelompok atau partai yang busuk, lambat laun keshalihannya akan terkikis dan keberadaannya justeru akan dimanfaatkan oleh kelompoknya demi menjustifikasi prilaku menyimpang mereka. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi”. (QS. Ali Imran: 118).

Keempat, pemilih juga harus jeli melihat motivasi sang calon. Orang yang ambisius dalam mencari jabatan tidak layak untuk diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin. Di antara indikasinya, jika ia menempuh segala jalan dan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan jabatannya, di antaranya menyuap (money politic), memalsukan berkas-berkas pencalonan dan sebagainya. Ketika berhasil menjabat, orang demikian, tidak akan segan-segan melakukan praktek kotor, demi mengeruk kekayaan pribadi sebesar-besarnya, sekalipun dengan melanggar HAM atau merusak flora dan fauna. Firman Allah, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan ia mempersaksikan kepada Allah atas (ketulusan) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berkuasa, maka ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan” (QS. Al-Baqarah: 204-205).

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Selain itu, masih terdapat indikator-indikator lain dalam memilih pemimpin dalam Alqur’an, seperti ia harus mempunyai intergritas keilmuan yang terkait dengan kepemimpinannya, sehat jasmani-ruhani dan sebagainya. (QS. Al-Baqarah: 247 dan Al-Qashash: 26).

Di alam demokrasi, seperti di negeri ini, di mana kedaulatan dalam memilih pemimpin dan wakil rakyat di lembaga-lembaga perwakilan, baik pada tingkat nasional maupun lokal, berada di tangan setiap individu, kita selaku umat berkewajiban memilih calon wakil dan kandidat pemimpin yang shalih, bersih KKN, memiliki integritas agama, keilmuan dan moralitas yang baik, sesuai dengan petunjuk Alqur’an. Kita wajib memberikan dukungan kepada calon pemimpin yang shaleh yang memiliki visi dan misi dakwah rahmatan lil-‘alamin, agar ia mendapatkan kekuatan secara konstitusional sebagai pemimpin negeri ini. Jika tidak, maka kita bakal diperintah oleh sekelompok orang yang tak segan-segan menyengsarakan umat dan bangsa ini ke depan. Na’udzu biLlah min dzalik.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمء بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ