foto-foto aktiviti dakwah dan kemanusiaan

foto-foto aktiviti dakwah dan kemanusiaan
Showing posts with label Umat islam di China... Show all posts
Showing posts with label Umat islam di China... Show all posts

Monday, September 7, 2009

MUSLIM UIGUR DI XINJIANG DIHINA LAGI..?

IKRAR: (Ikatan Kebajikan Rakyat). Badan bebas dan non partisan. Fokus kepada nasib dan kebajikan rakyat.

Muslim Uighur Dilarang Berpuasa Ramadhan

Senin, 07/09/2009 16:04 WIB

Tampaknya pemerintah China benar-benar serius terhadap komunitas Muslim di negaranya itu. Setelah peristiwa beberapa bulan silam yang menewaskan sejumlah besar Muslim di kawasan Uighur, sekarang di bulan Ramadhan, pemerintah China di provinsi Xinjiang mengeluarkan ancaman, jika ada pekerja di Uighur yang kedapatan tak makan siang selama Ramadhan, maka akan dipecat. Demikian diberitakan oleh Epoch Times.

Ini merupakan usaha keras dari pemerintah Xinjiang, agar Muslim Uighur tidak menjalankan kewajibannya di bulan Ramadhan. “Makan siang gratis, teh dan kopi—pemerintah menyebutnya ‘Kepedulian dari Pemerintah’ ditawarkan di departemen dan perusahaan pemerintahan. Tapi itu tampaknya strategi pemerintah untuk menemukan siapa saja yang berpuasa.” Ujar Dilxat Raxit, juru bicara World Uighur Congress.

Menurut Dilxat, Partai Komunis Uighur telah memaksakan menandatangi “surat pertanggungjawaban” yang bersumpah untuk menghindari puasa dan aktivitas ibadah lainnya. Mereka juga tidak segan akan menghukum siapapun yang kedapatan berpuasa di wilayah ini.

Para pemilik restoran Muslim dipaksa pula menandatangi dokumen yang menyatakan mereka akan terus buka sepanjang hari dan menjual alkohol sepanjang Ramadhan, atau izinnya akan dicabut. Para ustad di masjid dipaksa untuk menyampaikan ceramah tentang puasa itu kegiatan feudal. Jika tidak, izin mereka pun akan dicabut.

Saat ini, situasi di Xinjiang untuk orang Muslim belum kembali normal. Militer dan tentara berjaga-jaga dimana-mata.(sa/epochtimes)

HR9808:

7 Sept

Membaca berita Ramadhan dari Xinjiang amat memprihatinkan dan seharusnya ada beberapa langkah yang wajib diambil segera.

1. OIC harus mendesak China agar menghormati dan memberi hak beragama kepada masyarakat Muslim Uigur dengan serta merta. Sekiranya pihak OIC tidak melaksanakan tanggungjawab ini maka wajar OIC dibubarkan sahaja!! Jika sebelum ini Pak Lah jadi pengerusinya dan sekarang sudah diserahkan kepada orang lain atau masih kekal tapi masih tidak nampak peranan sebenarnya.

2. Pihak media Muslim dan para simpatisan dari seluruh dunia harus menyebarluaskan maklumat kezaliman ini agar umat Muslim bersatu memberi sokongan kepada puak Uigur demi maruah agama dan hak asasi kemanusiaan. Tunjuk perasaan seharusnya dapat disusun aar desakan lebih meluas. Terutama di Malaysia yang kononnya jaguh hak asasi dan prihatin dengan nasib umat Islam. Jika soal kuil boleh bertempik, kenapa tidak soal yang lebih parah seperti ini. Saudara kita tidak dibenarkan berpuasa dan nyawa mereka terancam seharusnya seluruh umat Islam bangkit bersuara!! Jangan hanya jadi jaguh kampung sahaja dan mari kita bersama nyatakan penderiaan kita.

3. Kerajaan Malaysia seharusnya memainkan peranan dan mengajak negara lain untuk bersama mendesak secara diplomatik. Tapi jika hal serius begini tidak diambilkira maka jelaslah Malaysia punya pemimpin yang sudah tidak berwibawa lagi. Tidak seperti zaman Mahathir dulu (bukan bermakna saya bersetuju semua dengan Mahathir) yang lebih berani menyatakan sesuatu dengan pantas. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar Najib bersuara soal saudara Muslim Uigur? Takut ditarik semua bantuan atau sememangnya tak prihatin?

4. Desakan diplomatik dan tahapannya perlu segera bukan menunggu setelah ratusan ribu umat Uigur mati baru mahu bersuara. Segeralah berbuat sesuatu untuk saudara kita ini? Mereka meraung meminta tolong dari kita dan siapakah lagi yang mampu menolong mereka? Umat Islam Indonesia yang ramai sewajarnya berperanan memberi desakan ini sehingga ke tahap mengurangkan import produk China dan pelancongan. Sama juga dengan Malaysia dan beberapa negara Muslim yang lain, mesti bertindak kerana tempuh dan aksi deraan mereka makin melampau. Semoga ALlah memberi keberanian kepada pemimpin negara Islam sedunia yang sememangnya sedang tidur neyenyak. Merenung kenyataan di atas membuat hati kita bergetar!!!!

Ya Allah Kau pilihlah kami sebagai hamba Mu yang mahu berkorban diri, harta dan nyawa demi saudara kami di mana sahaja mereka berada.!!! Jika ada pemimpin kami yang lalai dan tidak mahu membela saudara kami maka kau hancur luluhkanlah kerajaan mereka dan ganti dengan mereka yang lebih baik.!! Ya ALlah..berikanlah kami kekuatan dan kesabaran untuk melaksanakan tugas ini!!!

Tuesday, July 14, 2009

NEGARA CHINA MENGUNDANG CELAKA...?

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

15 JULAI

Isu pembantaian umat Islam di Xianjiang makin direspons oleh penduduk dunia khasnya di Turki. Tapi pelik di Malaysia masih belum ada yang menyatakan sesuatu sehingga ke hari ini. Apakah ianya belum cukup membakar jiwa atau masih belum panas? Yang jelas pemimpin negara kita ini penakut. Takut ditarik bantuan dll dari China. Inilah realiti yang harus kita fahami. Negara Melayu Islam yang lemah. Hidung sudah diikat dengan tali maka ke mana sahaja ditarik terpaksa ikut. Kesian dan malang sekali negara ku punya pemimpin yang tiada rasa apa-apa melihat sdrnya diperlakukan sedemikian rupa.

Saya berharap esuk isu ini akan diangkat semasa sesi resolusi di Muzakarah dan para cendikiawan Islam yang berseminar dapat turut bersama merasakan kepedihan sdr kita di Xinjiang. Begitu juga dengan NGO Islam di seluruh Malaysia dapat turut menyatakan komitmen mengutuk tindakan China di Xinjiang. Kita tidak mahu umat ini diperlakukan sedemikian rupa dan kita juga tidak mahu umat ini bertindak membabi buta kerana semata-mata marah. Tetapi kita juga tidak dapat menolak dan menyekat tindakan para Mujahid yang berada di pelosok dunia dari berhenti menunjukkan sikap mereka. Inilah relaiti dan China harus faham keadaan ini. semakin ramai sdr Muslim yang mati dan ditindas di sana maka semakin tinggilah risiko kepentingan China di seluruh dunia. Informasi ini dapat kita peroleh dari kajian beberapa pihak seperti yang saya paparkan di bawah.

Yang lebih malang lagi ialah jika isu ini dapat diambil kesempatan oleh USA yang sememangnya sejak lama berperang dingin dengan China. Kita tidak boleh biarkan umat Islam menjadi pelanduk mabuk yang tersepit di celah gajah besar yang mengamuk. Ayuh mari kita pusatkan komitmen untuk menyatakan sesuatu yang ikhlas dari hati yang paling dalam terhadap sdr kita di Xinjiang. Semoga Allah selamatkan mereka semua dan memboikot produk dari China!!!

China Bakal Jadi Target Para Jihadis

Selasa, 14/07/2009 19:23 WIB
Informasi bahwa Al-Qaida mengancam akan membalas dendam perlakuan pemerintah China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang disampaikan oleh sebuah lembaga konsultan internasional Stirling Assynt. Lembaga itu mengklaim mendapatkan informasi itu berdasarkan laporan Aljazair Al-Qaida Islamic Maghreb (AQIM) sebuah organisasi yang disebut sebagai bagian dari jaringan Al-Qaida.

AQIM mengancam akan menyerang kepentingan-kepentingan negara China di luar negeri untuk membalas kematian Muslim Uighur dalam kerusuhan antar etnis di Xinjiang. "AQIM menjadi sayap Al-Qaida yang pertama kali mengancam China dan nampaknya kelompok lain juga akan mengeluarkan ancaman yang sama," demikian laporan Stirling Assynt yang dilansir surat kabar South China Morning Post, edisi Selasa (14/7).

Lembaga konsultan itu menyatakan, keinginan untuk membalas dendam atas apa yang dialami Muslim Uighur di Xinjiang sudah menyebar ke banyak komunitas jihadis di seluruh dunia dan ratusan ribu orang China yang bekerja di Timur Tengah dan Afrika Utara termasuk 50.000 orang China yang bekerja di Al-Jazair terancam keselamatannya.

"Ancaman ini harus ditanggapi dengan serius. Makin banyak para jihadis yang mulai membicarakan bahwa mereka ingin melihat adanya tindakan terhadap China. Beberapa jihadis sudah dengan aktif mencari informasi tentang segala sesuatu milik China yang ada di dunia Islam, yang bisa menjadi target mereka," demikian klaim Stirling dalam laporannya.

Masih menurut Stirling, proyek-proyek China di negara Yaman adalah salah satu target kelompok-kelompok ekstrim yang sekaligus ingin menumbangkan kepemimpinan Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman karena menjalin hubungan dengan China. (ln/aby)

Gelombang Protes Jepang dan Turki Terhadap Cina Selasa, 14/07/2009 13:55 WIB

Dua negara yang berbeda, namun dengan sikap yang sama. Begitulah yang sedang terjadi di Jepang dan Turki. Pembantaian Muslim di Xinjiang, Cina dalam jumlah yang sangat banyak telah mengundang berbagai kecaman.

Hari ini, Ankara, ibukota Turki telah tumplek dengan ribuan orang yang memadati kedutaan besar Cina. Ini tidak lepas dari pembantaian Muslim Uighurs di Turkistan Timur oleh pasukan militer Cina.

Polisi Cina telah menangkap 1,434 Muslim Uighurs di Turkistan Timur dua hari setelah pasukan tentara Cina membantai 156 orang dan melukai lebih dari 1.000 orang.

“Pemerintah Cina harus meninggalkan praktik dan kebijakan represifnya terhadap hak asasi manusia, harus menghentikan penindasan terhadap hak hidup, kebebasan dan kesadaran beragama Turkistan Timur dan di semua wilayah Cina.” Begitu bunyi tuntutan mereka.

Sedangkan di Tokyo, Jepang, orang-orang pun turun ke jalan dan mengibarkan bendera Turkistan Timur dan meneriakan slogan anti-Cina.

“Cina, hentikan pembantaian! Bebaskan Uighur!” begitu bunyi dari spanduk mereka. “Berikan kebebasan pada Uighur!”

Para demonstran mengumpulkan tanda tangan dalam sebuah surat terbuka yang akan dikirim kepada presiden Cina Hu Jintao. “Kami mengecam pembantaian Uighur.”

“Dengan menyembunyikan kebenaran, pemerintah Cina hanya membuat buruk hubungan antara rakyat Uighur dan ketidakpuasannya.”

Jepang dan Turki adalah dua negara sekuler. Kemana wahai negara-negara Islam? (sa/wb)


Erdogan Akan Bawa Masalah Xinjiang ke Sidang G-8

Senin, 13/07/2009 17:09 WIB
Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan rupanya tak sedang berbasa-basi untuk membela nasib pilu rakyat Turkistan Timur (Uighur) di Xinjiang, Cina, yang pekan ini mencuat karena kekerasan yang dilakukan militer Cina.

Erdogan akan membawa kasus Xinjiang itu ke sidang negara-negara maju yang tergabung dalam kelompok G-8 yang tengah menggelar sidang di Italia.

Dikatakan Erdogan, ia akan duduk bersama para pemimpin dan pejabat negara serta peserta sidang G-8 untuk memberikan sikap dan perhatian serius terhadap krisis Xinjiang.

"Tidak patut rasanya para pemimpin negara-negara maju itu berdiam diri saja tanpa adanya gerakan di hadapan kekerasan yang menimpa etnik Uighur yang dilakukan oleh keamanan Cina di Xinjiang," tegas Erdogan sesaat sebelum ia bertolak menuju Italia untuk menghadiri sidang G-8.

Erdogan menambahkan, dirinya akan "memaksa" para pemimpin negara-negara G-8, termasuk di dalamnya Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Rusia Dritri Marvedev serta Sekjen PBB Ban Ki-Moon untuk serius segera mengatasi krisis Xinjiang. (L2/trt)

Sunday, July 12, 2009

HT Indonesia kutuk kejadian di China..

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

13 Julai
Dalam TV! malam semalam, selama 50 minit dibahas tentang isu ini oleh Dr Zahari Ismail. Cuma dari beberapa penelepon ternyata isu ini masih tidak jelas difahami oleh rakyat negara ini. Mungkin juga sebahagian besar pemimpinnya. TV1 juga menyekat kaitannya dengan Malaysia. Seolah-olah bila ditegah, memberi inpak sepintas lalu ada kaitannya. Cuma menindas pemerintah Malaysia bukan kerana kaum tetapi penindasan dalam bentuk fahaman politik. Yang sokong pemerintah selamat dari gangguan ISA, ugut dll. Yang tidak sokong alamat kenalah bahananya seperti difitnah, ditangkap, dimusnahkan karier dan 1000 macam perancangan jahat. Ya inilah hakikat era yang disebut nabi sebagai era "Mulkan Jabbariy" pemerintah yang zalim yang memaksa umat taat pada mereka. Mereka Islam tetapi sekular, mereka Islam tetapi tolak Islam sebagai cara hidup, mereka Islam tapi arak,zina, rasuah dan judi halal sampai menjadi hidangan wajib di raja. Nak harap apa dari golongan ini? Harap adil dari mereka yang mabuk? Alamat kitalah yang ke dalam sebab jatuh hukum semasa masih berdengung.

Sebagai seorang Muslim, kita harus faham hal realiti ini supaya kita tidak terlalu kecewa melihat kesusahan yang menimpa kita jika mahu beramal dan memperjuangkan Islam. Tetapi yang lebih penting kita harus terus bersiap sedia menerima kenyataan dan mencari jalan menjauhi dari perkara yang paling buruk. Sdr kita di Xinjiang, adalah keturunan pahlawan yang masih mengalir darah syuhada ditubuh mereka. Mereka sedikit tetapi semangatnya besar dan rasanya mereka tidak akan berdiam diri. Mereka sanggup berjalan puluhan kilometer dan menempuh bermacam kesusahan kerana itu sudah biasa bagi mereka sebelum ini cuma kita tidak tahu. Yang perlu kita lakukan sekarang ialah penyatuan hadaf, penyatuan pemikiran, keseragaman solusi dan bergerak dengan kadar kemampuan yang ada. Jika BOIKOT paling berkesan maka inilah yang patut kita lakukan seperti tanda sokongan kita kepada Palestin.

Saya akan menghantar emel ke pihak HT Indonesia dan beberapa NGO di Indonesia agar memberi aksi lanjut yang lebih berkesan serentak di seluruh ASEAN. Bertindaklah!!!!

HTI Mengutuk Tragedi Pembantaiam Muslim Xinjiang

Senin, 13/07/2009 11:12 WIB
Ibu kota wilayah Xinjiang, Urumqi, bergolak. Umat Islam etnis Uighur di sana masih terus terancam. Setelah aparat keamanan Cina membantai mereka dalam aksi protes terhadap kebijakan pemerintah Cina yang diskriminatif pada 5 Juli lalu yang membuat 156 orang tewas, 1434 ditahan dan lebih dari 1.000 lainnya terluka, kini giliran ribuan etnis Han, yang sengaja dimukimkan pemerintah Cina di wilayah Xinjiang, turun ke jalan-jalan di Urumqi, ibukota wilayah Xinjiang, guna memburu warga Muslim yang tidak berdaya. Kelompok Uighur di pengasingan menyebut adanya “genocide” (pembersihan massal) terhadap kaum Muslim di wilayah Xinjiang. Bersenjatakan pentungan dan lainnya, etnis Han memburu etnis Uighur. Warga Muslim yang tidak bisa menyelamatkan diri babak-belur hingga sekarat, menjadi bulan-bulanan kebrutalan etnis Han. Menurut saksi mata, tak satu pun etnis Han yang melakukan serangan itu ditahan polisi.

Keberadaan muslim di wilayah Xinjiang, Cina, merupakan buah dari dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad dan para shahabat ke seluruh penjuru dunia. Adalah Khalifah Uthman ibn Affan yang memulai kontak dengan Cina. Setelah menundukkan Romawi dan Persia, Khalifah Uthman bin Affan mengirim delegasi yang dipimpin Sa’ad ibn Abi Waqqas ra ke Cina pada tahun 29 H (651 M). Misi delegasi ini adalah mengundang kaisar Cina untuk memeluk Islam. Delegasi itu lalu membangun Masjid di kota Kanton. Masjid ini dikenal hingga hari ini sebagai ‘Masjid Memorial’.

Dari sini mulai tumbuh benih kebencian terhadap muslim di Cina. Akan tetapi keberadaan Khilafah saat itu membuat mereka terlindungi. Tidak ada satupun penindasan yang dibiarkan begitu saja kecuali dengan jihad fii sabilillah. Salah satu perang yang berkobar di perbatasan Cina terjadi di tahun 1334H. Meski berjumlah lebih sedikit, dengan bantuan Allah SWT, pasukan muslim berhasil menggempur pasukan Cina dengan telak. Setelah itu, umat Muslim sangat dihormati sebagai kekuatan yang diperhitungkan hingga mampu mengontrol sebagian besar Asia Tengah.

Kemenangan demi kemenangan membuka pintu Cina bagi muslim untuk menyebarkan keindahan dan kebenaran Islam. Pendatang muslim generasi awal ini juga mendirikan mesjid, sekolah, dan madrasah. Di perkotaan, para ulama mendominasi. Madrasah menjadi tempat menimba ilmu bagi banyak pelajar. Pelajar datang dari berbagai wilayah termasuk Rusia dan India, sehingga benar-benar menjadi arti harfiah dari ungkapan ‘Belajarlah hingga ke Cina.” Di tahun 1790an, tercatat ada sekitar 30 ribu pelajar muslim. Kota Bukhara yang saat itu masih merupakan bagian dari Cina, menjadi terkenal dengan julukan sebagai ‘Pilar Islam.’ Di kota inilah, Imam Bukhari lahir dan dikenal sebagai ahli hadits.

Tapi keadaan itu kemudian berubah sejak komunis menguasai wilayah muslim itu di tahun 1949. Mereka terus berusaha menghapus identitas dan budaya Islam di Xinjiang. Diskriminasi juga terjadi di bidang ekonomi. Wilayah Xinjiang yang sesesungguhnya sangat kaya yang memasok lebih dari 40 persen cadangan energi (minyak, gas dan batubara) Cina, tapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Sejak saat itu juga telah terjadi pemutusan komunikasi total sehingga tidak diketahui apa saja yang terjadi di sana. Penyelidikan mendalam menunjukkan keadaan yang sangat menyedihkan. Seseorang bisa diburu polisi karena ‘kejahatannya’ mengajarkan Qur’an kepada anak-anak. Sering juga terjadi razia terhadap umat Islam di Beijing. Penindasan terhadap umat Islam di sana memiliki satu tujuan: menghapus identitas Islam dari umat muslim. Menurut statistik kependudukan di tahun 1936, pemerintahan Kuomintang Republik Cina saat itu memperkirakan jumlah warga muslim sebesar 48.104.240 orang. Tapi sejak pemerintahan komunis, angka tersebut menurun menjadi 10 juta warga saja. Tidak ada penjelasan resmi, ke mana hilangnya 38 juta nyawa. Pembersihan massal seperti ini sangat luar biasa dan membuat apa yang terjadi di Tibet tidak ada apa-apanya. Padahal Barat begitu getolnya membela hak asasi pendeta dan Dalai Lama Tibet akibat pendudukan Cina di sana dan juga peristiwa Tiananmen Square, tapi tidak pernah peduli terhadap nasib umat Islam.

Di samping penghilangan secara fisik, Muslim juga sering dihujani dengan serangan yang mengancam identitas keislaman mereka. Masa Revolusi Budaya (1966-76) menunjukkan bagaimana brutalnya kebijakan dan sikap kaum Komunis. Ini terlihat dari poster yang terpampang di Beijing saat itu di tahun 1966, yang menyerukan penghapusan ritual Islam. Muslim juga dilarang untuk mempelajari bahasa tulis yang dipengaruhi oleh Arab, Turki dan Parsi. Pemerintah komunis juga menutup Masjid dan menyebarkan fitnah tentang Islam dan muslim. Properti wakaf disita dan masjid diduduki paksa. Kebijakan untuk membersihkan etnik muslim terus berlangsung. Etnik Han (mayoritas etnik di Cina, yang kafir) mulai banyak bertransmigrasi ke wilayah Xinjiang (Turkestan Timur untuk memastikan adanya mayoritas non-muslim di sana. Pada tahun 1949 hanya ada 2-3% etnik Han di sana, namun kini mereka mencapai 38%.

Meski ditindas oleh tirani pemerintah Cina, muslim di Xinjiang masih bertahan. Anak-anak muda mengenakan kalung berlogo bulan bintang, yang mirip dengan simbol yang digunakan Khilafah Uthmani di masa lalu. Tapi mengenakan kalung ini bisa berakibat penjeblosan ke penjara. Pernah di daerah Kajacou di Beijing, seorang muslim ditanya tentang anak-anaknya, yang ia jawab ada 6. Angka ini sangat tinggi karena hukum di Cina mengatakan bahwa muslim di Xinjiang hanya boleh punya anak 2 saja!

Berkaitan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

Apa yang terjadi pada 5 Juli lalu dan aksi-aksi sesudahnya di wilayah Xinjiang, Cina ditambah dengan apa yang terjadi di wilayah lain di dunia seperti di Thailand Selatan, Philipina Selatan, Rohingnya, Myanmar, Jammu Khasmir dan lainnya menunjukkan bahwa umat Islam minoritas di manapun sesungguhnya dalam keadaan menderita, hidup dalam tekanan, penindasan dan perlakuan diskriminatif dari penguasa di wilayah itu. Slogan kebebasan, keadilan, persamaan dan perlakuan non diskriminasi dari demokrasi, HAM dan nilai-nilai sekuler hanyalah omong kosong. Ia tidak berlaku untuk umat Islam. Dunia akan ribut bila yang menjadi korban adalah warga Barat, tapi diam seribu basa bila yang menjadi korban adalah umat Islam.

Kenyataan di atas juga menunjukkan bahwa demikian buruknya keadaan umat yang disebut al-Qur’an sebagai khayru ummat. Semua ini terjadi karena memang umat tidak memiliki pelindung (khalifah). Di sinilah letak pentingnya perjuangan penegakan Khilafah. Hanya bila umat Islam bersatu di bawah naungan Khilafah, harta, jiwa dan kehormatannya akan terjaga. Berkembangnya Islam ke berbagai belahan dunia, termasuk ke wilayah Cina tidak lain adalah berkat usaha yang dilakukan oleh para khalifah di masa lalu. Dan semasa khilafah masih eksis, mereka hidup dalam keadaan aman, tenteram, adil dan sejahtera.

Memperingatkan pemerintah Cina untuk segera menghentikan kedzaliman. Kepada pemerintah Indonesia juga negara-negara Islam lain untuk menekan pemerintah Cina agar segera menghentikan kedzalimannya, dan memulihkan hak-hak muslim di sana. Sementara kepada umat umat Islam, diingatkan bahwa kenyataan-kenyataan di atas semestinya semakin menggelorakan semangat perjuangan penegakan khilafah, dan tidak lagi mempercayai doktrin dan intitusi sekuler yang sekarang ada. Umat Islam hanya bisa berharap pada Islam dan Khilafah.

Jakarta, 12 Juli 2009/7 Rajab 1409 H

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto

Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net

(sumber : Pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia Nomor : 164/PU/E/07/09)

Xinjiang, Tanah Kaya di Negeri Cina

Senin, 13/07/2009 12:32 WIB
Menjadi produsen minyak terbesar kedua di negeri Cina, serta merupakan wilayah yang kaya dengan sumber daya alam, provinsi Xinjiang yang mayoritas Muslim menjadi sangat penting bagi perekonomian dan geopolitik negara tirai bambu ini.

"Berbatasan dengan sebelah barat laut Cina, dan seperti halnya wilayah Tibet, Xinjiang menjadi hal mutlak yang sangat penting bagi keamanan negara," kata Wenran Jiang - seorang pakar asal Cina dari Universitas Alberta - kepada AFP pada Ahad yang lalu.

"Beijing tidak akan berkompromi dengan cara apapun terhadap wilayah ini."

Mencakup lebih dari 1,6 juta km persegi, Xinjiang mengambil seperenam dari seluruh wilayah Cina.

Daerah bergurun pasir dan bergunung serta sedikit penduduknya menjadi daya tarik tersendiri bagi wilayah tersebut karena kaya akan hasil pertambangan, pertanian serta energi.

Xinjiang menjadi wilayah yang kaya akan sumber daya dan menjadi produsen minyak kedua terbesar di Cina dengan menghasilkan minyak 24.7 juta ton.

Beberapa saluran pipa penting seperti pipa saluran minyak dan gas dari Asia tengah melintasi wilayah itu, membantu memenuhi kebutuhan yang sangat besar akan energi bagi penduduk di kota-kota yang ada di pantai timur.

"Dengan penurunan cadangan di Heilong Jiang dan Shandong, Xinjiang yang menjadi wilayah dengan pertumbuhan yang sangat strategis setiap tahunnya," kata Ren Xianfang seorang analis di IHS Global Insight.

Xinjiang menjadi wilayah yang bergejolk sejak pasukan keamanan pemerintah komunis Cina diturunkan ke wilayah tersebut secara besar-besaran untuk menindak keras muslim Uighur yang melakukan demonstrasi menentang penindasan dan diskriminasi di wilayah itu.

Sedikitnya 184 - orang menurut versi pemerintah - telah terbunuh dan ribuan lainnya ditahan dalam rangka pengamanan yang dilakukan pasukan keamanan Cina.

Wilayah Strategis

Xinjiang telah berkembang pesat sejak tahun 80 an, yang akhirnya menarik gelombang migrasi dari etnis Han ke wilayah tersebut hidup berdampingan dengan etnis muslim Uighur.

"Sangat sedikit etnis Uighur yang bekerja di industri minyak disana," kata Jean Fran Ois Huchet, direktur dari pusat kajian Prancis pada Cina kontemporer di Hongkong.

"Penduduk muslim Uighur telah terjebak dan terkurung di daerah pedesaan dalam sistem pertanian yang sangat sedikit memiliki nilai tambah."

Namun ada beberapa wilayah yang menghasilkan kapas, mereka berjuang untuk memperoleh kemajuan dalam bidang ekonomi.

Daerah yang dikuasai oleh kelompok militer - Bingtuan - mengontrol wilayah pertanian yang sangat luas, mempekerjakan lebih dari 2,2 juta orang disana, dan mayoritas adalah etnis Han.

Etnis Uighur yang minoritas berbahasa Turki lebih dari delapan juta penduduk, telah menuduh pemerintah mengerahkan serta memindahkan jutaan etnis Han di wilayah mereka dengan tujuan akhir memusnahkan identitas dan kebudayaan mereka.

Mereka juga menyebutkan rencana baru pemerintah yang akan menerapkan pengajaran bahasa Mandarin di sekolah-sekolah yang ada di Xinjiang, menggantikan dialek lokal mereka.

Xinjiang juga menjadi wilayah tempat pemerintah Cina melaksanakan uji coba Nuklir bawah tanah selama beberapa dekade dan menjadikan wilayah itu sebagai tempat strategis diletakkannya misil-misil Cina.

Hal ini juga yang menjadikan wilayah tersebut sangat penting bagi geopolitik Cina karena berbatasan dengan delapan negara, termasuk Afghanistan dan Pakistan, yang Cina anggap sebagai ancaman utama mereka.(fq/iol)


PM TURKI DAN RAKYATNYA BERANI MENYUARAKAN PENDIRIAN..

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

12 JULAI

Bersama semalaman dengan pimpinan Jaringan NGO Muslim Perak di Tapak Perkhemahan Kg. Ulu Chepor memberi berbagai inspirasi:

1. Menyemak semula gerakerja NGO Muslim dan keberkesanannya kepada dakwah.
2. Refresh semangat setiakawan dan kebersamaan dalam mengatur strategi bersama di negeri Perak.
3. Menimba ilmu dari kuliah Ust Zul soal keperibadian Ibadur Rahman yang seharusnya sebagai dai memilikinya tanpa kecuali.
4. Penjelasan tentang hal tuju Jaringan NGO Muslim dan solusi yang wajar dari Dr. Khairuddin.
5. Kuliah subuh dari Ust Jamaluddin tentang Uslub Dakwah yang dipamerkan oleh Rasulullah saw. Jika dakwah difahami dengan benar oleh para dai maka tidak akan timbul perselihan faham antara NGO.
6. Taklimat dari Bendahari, Setiausaha dan wakil NGO amat jelas bahawa NGO Muslim Perak punya masa depan yang cerah sebagai satu wadah kordinator semua NGO.
7. Wakil dari Haluan dan Jim bersedia untuk memikul amanah perlaksanaan aktiviti khusus sepanjang tahun 2009.
8. Program qariah dari Nazri memperlihatkan fokus dan peningkatan komitmen dari semua NGO.
9. Resolusi dan tindakan yang sewajarnya akan dipantau serius oleh semua NGO terutama dengan adanya program qiam bulanan di masjid.

Setelah jam 11 pagi, kami bersurai. Semoga Allah memudahkan perlaksanaannya sehingga segala perancangan berhasil.

Diselang seli perbincangan semalam ternyata terlalu banyak yang harus diselesaikan dan semakin hari semakin rumit untuk diselesaikan. Maka inilah realiti yang melanda umat ini. Umat ini disibukkan oleh para konspirator di seluruh dunia dengan bermacam bentuk kesusahan yang menimpa mereka. Paling terdekat ialah di China. PM Turki yang berani telah sepakat dengan negaranya untuk memboikot produk China. Inilah contoh yang perlu ada kepada pemimpin umat yang dengan segera bertindak. Bangun dan menyatakan pendirian adalah akhlak karimah yang dicontohkan oleh Rasul dan para sahabatnya. Tapi di Malaysia berbeda...mereka senang tidur dan bermanja dengan kemewahan yang ada sehingga tidak kedengaran apa-apa dari pemimpinnya.
Biarkan mereka lena..tapi kita harus bangun..Ayuh..kita bangun dan menyatakan sokongan boikot produk China selagi masih berlaku penindasan kaum ini. BOIKOT...!!!

PM Turki: Cina Lakukan Holocaust di Xinjiang

Sabtu, 11/07/2009 17:31 WIB
Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan mengecam aksi kekerasan yang terjadi di wilayah Xinjiang yang dilakukan militer China terhadap penduduk wilayah itu yang mayoritas Muslim dan berasal dari etnik Tuskistan Timur atau Uighur.

Erdogan bahkan menyebut aksi kekerasan tersebut sebagai pembantaian massal atau Holocaust. "Sebuah peristiwa pembantaian massal tengah terjadi di wilayah Xinjiang di barat laut China yang mayoritas penduduknya adalah Muslim," kata Erdogan.

Dalam sebuah wawancaranya pada Jum'at (10/7) kemarin di kanal televisi Turki NTV, Erdogan juga menyebut tak ada kata-kata lain untuk tindakan represif yang dilakukan keamanan Cina di Uighur kecuali hal tersebut adalah pembantaian etnis secara besar-besaran.

Sebagaimana dilansir oleh beberapa media, menyusul demonstrasi yang dilakukan rakyat Uighur pada beberapa hari lalu yang berbuntut kerusuhan tersebut, pemerintahan Cina telah menculik lebih dari 1434 Muslim Uighur. Sementara itu, jumlah korban yang mati dalam peristiwa memilukan itu mencapai 156 jiwa, sementara 800 lainnya luka-luka.

Terkait kasus tersebut, Erdogan juga menyerukan pemerintahan Cina untuk ikut turun tangan menangani kasus tersebut agar tak lagi banyak korban yang menyusul berjatuhan.

Turki memiliki sebuah kedekatan yang istimewa dengan etnik Uiguhur. Keduanya disatukan oleh kesamaan rumpun etnik (Turki modern berasal dari ras Turk begitu juga Uighur, mereka adalah ras Turkistan Timur), bahasa, dan kebudayaan.

Wilayah ras, bahasa, dan budaya Turki sendiri saat ini membentang mulai dari Turki (modern) di Asia Minor (Anatolia), Kaukasus, Asia Tengah (meliputi Turkmeneistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgistan) hingga Uighur di Xinjiang sebagai ujung batas wilayah timur.

Maka, rakyat Uighur yang nota benenya adalah ras-bangsa Turki, jelas tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan Cina yang mayoritas penduduknya adalah bangsa Han. Cina jelas-jelas menjajah Uighur.

Sebagai bentuk protes atas apa yang dilakukan Cina kepada ras serumpun Turki, menteri teknologi Turki pun memutuskan untuk memboikot semua produk Cina.

Beberapa hari yang lalu, pemerintahan Turki juga mengumumkan pihaknya akan memberikan visa kepada para pemimpin Uighur, khususnya Rabiah Kadir yang saat ini berada di Amerika. (L2/alm)

Turki Serukan Boikot Produk China

Jumat, 10/07/2009 17:45 WIB
Menteri Perdagangan dan Industri Turki Nihat Ergun menyerukan boikot terhadap produk China sebagai protes atas aksi kekerasan yang dilakukan etnis Han dan aparat China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Sementara itu, Perdana Menteri Turki Recep Tayyib Erdogan menyatakan Turki siap menerima tokoh gerakan Muslim Uighur, Rabiya Kadeer jika ia diasingkan menyusul kerusuhan antar etnis di Xinjiang.

Dalam pernyataannya, Menteri perdagangan dan Industri Turki mengancam China dengan mengatakan, jika negara yang produk-produknya dikonsumsi oleh rakyat Turki tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan maka Turki akan meninjau kembali konsumsi produk-produk itu.

"Konsumen yang membeli sebuah produk harus tahu apakah negara yang memproduksi barang itu menghormati nilai-nilai kemanusiaan atau tidak," kata Ergun saat ditanya para wartawan tentang kerusuhan di Xinjiang.

Turki, negara yang paling keras mengkritik pemerintah China atas apa yang terjadi di Xinjiang. Turki menyatakan menghormati wewenang pemerintah China di Xinjiang, namun Turki juga punya hubungan budaya dengan Muslim Uighur karena Muslim Uighur masih banyak yang menggunakan bahwa Turki.

Erdogan juga mengatakan akan memberikan visa untuk Rebiya Kadeer, tokoh Muslim Uighur yang berada dalam pengasingan di AS. Menurut Rebiya, ia pernah dua kali mengajukan permohonan visa ke Turki tapi ditolak.

Sementara itu, arus pengungsian Muslim Uighur mulai mengalir. Warga Muslim meninggalkan ibukota Xinjiang, Urumqi untuk menghindari aksi-aksi kekerasan dari etnis Han China. Pemerintah China juga melarang Muslim Uighur untuk salat di masjid-masjid.

Di terminal bis Bayi, terlihat tumpukan penumpang yang jumlahnya diperkirakan mencapai 10.000 orang. Menurut seorang petugas terminal, jumlah ini dua kali lipat dari jumlah penumpang dalam situasi normal. Para pengungsi bercampur dengan para siswa sekolah yang akan pergi liburan musim panas. (ln/yn/asiaone)

Ribuan Warga Turki Sholat Ghaib dan Demo Mengecam Pemerintah China

Sabtu, 11/07/2009 06:16 WIB
Ribuan masyarakat Turki di masjid Fatih kota Istanbul tumpah ruah dalam amarah terhadap pemerintah rejim komunis China setelah 156 orang etnis Muslim Uighur tewas di wilayah provinsi Xinjiang.

Masyarakat melaksanakan sholat ghaib bagi muslim Uighur yang menjadi korban atas kerusuhan sebagai protes terhadap serangan etnis Han yang menyerang pekerja pabrik dari etnis Uighur, yang menewaskan dua orang serta melukai 118 orang lainnya.

Seorang ulama - Dr. Nedim Urhan memimpin sholat ghaib bagi muslim Uighur yang tewas dalam kerusuhan, ribuan warga Turki mengikuti prosesi sholat ghain tersebut di masjid Fatih di salah satu distrik kota Istanbul.

Setelah pelaksanaan sholat ghaib, terjadi demonstrasi besar-besaran mengutuk pembantaian yang terjadi di Xinjiang atau Turkistan timur sambil membakar bendera negara China.

Banyak wanita yang menghadiri sholat ghaib yang dilaksanakan setelah pelaksanaan Jumat tersebut, kebanyakan dari wanita itu adalah etnis Uighur yang telah tinggal di Turki. Mereka menangisi kematian saudara-saudara mereka di sana akibat kerusuhan.

Dengan keras para demonstran meneriakkan,"Umat Manusia, anda tidak bisa menutup mata anda," "Hidup Muslim Turkistan Timur" dan "Muslim di Turkistan Telah di Bantai".

Setelah doa bersama, LSM-LSM Turki membuat pernyataan bersama dan menuntut pemerintah dan masyarakat Islam untuk memboikot terhadap produk ekonomi asal China dari seluruh negeri-negeri Muslim.

Presiden dari Asosiasi solidaritas dan kebudayaan masyarakat Turkistan Timur - Hidayat Oguzhan mengucapkan banyak terima kasih terhadap dukungan serta sensitivitas masyarakat Turki.

Banyak LSM-LSM dan beberapa pihak yang mewakili organisasi kepemudaan ikut dalam demonstrasi yang dilaksanakan setelah sholat Jumat tersebut dan akhir dari demonstrasi ditutup dengan pembacaan doa.

Kepolisian China telah menahan 1434 etnis Muslim Uighur dua hari setelah tewasnya 156 dan melukai lebih dari 1000 orang sejak Muslim Uighur memulai demonstrasi di pusat kota Urumqi.

Pernyataan resmi dari pemerintah komunis China menyatakan bahwa 156 orang tewas akibat bentrok dengan aparat kepolisian pada kerusuhan tersebut, namun Kongres Dunia Uighur mengatakan etnis Uighur yang tewas lebih banyak dari itu, sekitar 600 sampai 800 orang, perkiraan tersebut berdasarkan saksi mata yang melihat langsung kejadian.(fq/wb)

Muslim Uighur Kembali Ditangkap Setelah Sholat Jumat

Sabtu, 11/07/2009 06:58 WIB
Polisi anti huru hara China telah menangkap kembali etnis Uighur diperkirakan sekitar 5 sampai 6 orang yang ditangkap oleh polisi China setelah mereka selesai melaksanakan sholat Jumat kemarin.

Sebelumnya pemerintah komunis China telah memerintahkan masjid di kota Urumqi provinsi Xinjiang untuk di tutup bagi pelaksanaan sholat Jumat.

Ratusan orang berkumpul di dekat masjid 'Putih' di awasi oleh polisi anti huru hara dengan bersenjata lengkap serta kendaraan lapis baja, polisi juga memblokir jalan-jalan di sekitar masjid dan helikopter berpatroli mengawasi dari udara.

"Anda lihat ini, bagaimana mereka memperlakukan etnis muslim Uighur seperti binatang!" kata seorang perempuan.

Akan tetapi beberapa muslim Uighur dapat melaksanakan sholat Jumata di beberapa masjid yang ada di kota urumqi meskipun pelarangan pelaksanaan sholat Jumat berlaku untuk seluruh masjid yang ada di kota Urumqi.

Di Masjid 'Putih', salah satu masjid yang paling populer sebagai tempat ibadah yang cukup besar, sekitar 100 orang meminta kepada aparat kepolisian yang menjaga masjid untuk mengijinkan mereka masuk ke dalam untuk melaksanakan sholat Jumat.

Imam masjid mengatakan kepada polisi anti huru hara bahwa mereka akan mempersingkat pelaksanaan ritual sholat Jumat.

Seorang polisi dari etnis Uighur yang menjaga masjid yang tidak mau menyebutkan namanya, mengatakan : "Kami memutuskan untuk membuka masjid dan mengijinkan mereka sholat karena telah banyak orang yang berkumpul di depan masjid. Kami tidak ingin terjadi sesuatu."

Pelarangan sholat Jumat di masjid dari pemerintah komunis China dilakukan dengan alasan 'demi keamanan umum'.

Beberapa blok jalanan dari masjid 'Putih' terdapat masjid Yang Hang, dimana pada pagi Jumat sebuah poster ditempel di depan gerbang masjid yang berisi tulisan bahwa masjid untuk sementara di tutup untuk pelaksanaan sholat.

Namun pengumuman tersebut tidak diindahkan oleh warga, mereka malah mencopotnya dan ratusan orang masuk ke dalam masjid menggelar sajadah bersiap untuk melaksanakan sholat Jumat.

Masjid lain yang sering dikunjungi oleh etnis Hui - etnis Muslim lain yang ada di China - membuka pintu masjid pada Jumat kemarin setelah kerumunan ratusan orang berteriak meminta masjid tersebut dibuka.

Masjid-masjid lain di wilayah Xinjiang sebelumnya telah memberikan pengumuman bahwa pelaksanaan sholat Jumat tidak bisa dilaksanakan di masjid.

"Kami merasa terhina. Ini masjid kami. Namun kami tidak bisa masuk ke dalam, sementara mereka mengijinkan para komunis itu masuk ke dalam masjid," kata seorang pemuda, menunjuk aparat keamanan China yang masuk ke dalam masjid dan berjaga-jaga di atas menara masjid dengan seragam lengkap.(fq/wb)

Thursday, July 9, 2009

WARGA MUSLIM DIAMUK,.. OIC MENDIAMKAN DIRI??

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

9 JULAI

Tidak ada lagi harapan kepada OIC melainkan suruh mereka makan, seminar, minum dan tidur. Mereka tidak ada apa-apa yang boleh menegur pihak China. Bahkan PM kita yang baru sahaja menjalinkan hubungan akrab dengan China tutup mata dan buat-buat tak nampak. Apakah ini Islam yang berada dalam kepala dan jiwa mereka??? Saya tidak faham dan geram melihat kelibat mereka yang senang bersendewara di depan dunia. Wahai pemimpin Islam, jika kamu tidak mengucapkan sesuatu dan membela sdr mu maka benarlah anggapan rakyat jelata dan umat ini bahawa kamu adalah pengecut dan tidak bermarwah. Letakkanlah segala takhta dan jawatan yang ada dan kamu masih berdiam diri. Maka kuburlah tempat paling sesuai untuk kamu semua!!!

Genosida Mengancam Muslim Uighur

Kamis, 09/07/2009 17:02 WIB
Muslim Uighur di Xinjiang tidak punya pilihan lain selain bertahan dan melakukan perlawanan sebisa mungkin menghadapi amukan dan kebringasan etnis Han yang menyerang mereka. Tak jarang mereka harus lari menyelamatkan diri dari kejaran ribuan orang Han yang membawa tongkat pemukul dan senjata lainnya.

"Cari mereka (Uighur)! Serang! Serang! Serang!" teriak belasan orang Han dengan senjata siap di tangan, ketika melihat tiga lelaki Muslim Uighur lewat. Mendengar teriakan itu, ketiga lelaki Muslim itu ketakutan dan lari menyelamatkan diri. Tapi malang, salah satu diantara mereka berhasil tertangkap, kemudian dikeroyok dan dipukuli oleh sekelompok orang Han.

Pada saat yang sama, di tengah kota Urumqi, sekitar 20 orang perusuh dari etnis Han juga mengeroyok seorang lelaki Uighur dan dipukuli hingga nyaris tewas. Kondisi ini membuat Muslim Uighur yang tak berdaya khawatir akan keselamatan diri mereka.

"Terlalu banyak kebencian di sekeliling kami saat ini," kata Ali, seorang lelaki Uighur.

"Saya sangat takut untuk pulang ke rumah malam ini," kata Halisha, seorang Muslim Uighur yang berprofesi sebagai dokter mata. Ia pun memilih menginap di kliniknya yang kecil daripada harus pulang ke rumah di tengah situasi jalanan yang berbahaya.

Sejumlah saksi mata mengungkapkan, aparat keamanan China menangkap ribuan Muslim Uighur tapi tak satupun etnis Han yang terlibat kerusuhan ditangkap. Aparat China hanya mengusir etnis Han jika terlihat melakukan aksi anarkis dan kekerasan.

Organisasi-organisasi Muslim Uighur di pengasingan menyebut situasi di Xinjiang saat ini sebagai "genosida" terhadap warga Muslim Uighur. "Genosida sedang berlangsung terhadap komunitas Muslim Uighur. Otoritas pemerintah China harus bertanggung jawab atas kejahatan ini di hadapan dunia internasional," tukas Torgan Tozakhunov, deputi direktur Pusat Kebudayaan Uighur di Kazakhstan. (ln/iol)


Urumqi Masih Rawan Kerusuhan, China Kerahkan Ribuan Pasukan

Kamis, 09/07/2009 16:22 WIB
Pemerintah China akan menerapkan kebijakan yang makin represif di Xinjiang menyusul kerusuhan antar etnis di wilayah itu. Pemerintah menambah ribuan pasukannya ke Urumqi-ibukota Xinjiang-untuk memulihkan situasi di kota itu. Pimpinan Partai Komunis di China bahkan mendesak agar pemerintah mengeksekusi mereka yang tertangkap dalam kerusuhan tersebut.

Laporan Al-Jazeera menyebutkan bahwa meski aparat keamanan sudah berjaga-jaga dan situasi kota Urumqi sudah berangsur-angsur normal, ketegangan di kota itu masih terasa dan masih berpotensi terulangnya kembali kerusuhan yang lebih besar. Aksi massa Muslim Uighur hari Minggu (5/7) yang memprotes kebijakan diskriminatif pemerintah China berakhir bentrokan dengan aparat yang meluas menjadi bentrokan dengan etnis Han.

Kerusuhan ini menjadi kerusuhan antar etnis yang paling berdarah di China, yang mengakibatkan 150 orang tewas dan ribuan orang luka-luka. Sampai hari Rabu kemarin, aparat keamanan China menangkap lebih dari 1.000 orang. Pemerintah China mengingatkan, mereka yang terbukti bersalah melakukan pembunuhan akan dieksekusi.

"Kami akan mengeksekusi mereka yang melakukan kejahatan secara keji," ujar Ketua Partai Komunis China untuk Urumqi, Li Zhi.

Aparat keamanan China dalam beberapa hari ke depan, masih akan terus melakukan penangkapan menyusul pernyataan Presiden China Hu Jintao yang mendesak aparatnya untuk menindak tegas mereka yang terlibat dalam kerusuhan. Pemerintah China menuding warga Muslim Uighur sebagai biang keladi kerusuhan dan mengecam para tokoh etnis Han yang sudah ikut memperkeruh situasi.

Untuk mengendalikan situasi, pemerintah China bukan hanya memberlakukan jam malam, tapi juga mengerahkan ribuan pasukan militernya ke Urumqi. Konvoi panjang kendaraan tempur dan truk-truk militer mengintensifkan patrolinya di jalan-jalan di kota itu dan helikopter-helikopter militer secara rutin melakukan pengamatan dari udara di atas kota Urumqi.

Perhatian dunia, terutama dunia Muslim dan Arab atas nasib Muslim Ughhur dalam kerusuhan di China sampai hari ini masih minim. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip adalah pemimpin Muslim pertama yang menyerukan agar aksi kekerasan di China dihentikan.

Ahmet Davutoglu, Menlu Turki juga mendesak pemerintah China mengadili para pelaku kerusuhan dengan cara yang transparan. "Kami memantau peristiwa ini dengan perasaan prihatin, khawatir dan sedih," kata Davutoglu.

Negara Turki punya ikatan moral atas nasib Muslim Uighur yang menjadi penduduk mayoritas di wilayah Xinjiang. Muslim Uighur yang jumlahnya mencapai delapan juta jiwa memiliki kedekatan dengan Turki, karena Muslim Uighur menggunakan bahasa Turki.

Sejak pemerintah China mengambil kendali pemerintahan atas wilayah Xinjiang, Muslim Ughur mengalami penindasan dan diskriminasi. Pemerintah China bahkan berusahan menghapus jejak budaya Muslim Uighur dengan program imigrasi massal etnis Han ke wilayah otonomi itu yang kerap menimbulkan gesekan dengan Muslim Uighur. Berbagai penindasan dan dikriminasi memicu munculnya gerakan perlawanan etnis Uighur sejak era tahun 1990-an.

Xinjiang adalah kota di sebelah Barat wilayah China yang kaya akan sumber alam minyak, gas dan mineralnya. Xinjiang dulunya adalah tempat transit bagi para pedagang yang melewati Jalan Sutra yang menghubungkan China ke Eropa. (ln/aljz)


Tuesday, July 7, 2009

UMAT ISLAM DI REP CHINA TERANCAM..??

HR9808@IKRAR - adalah wadah bebas bukan partisan yang memfokus kepada kebajikan rakyat.
Singkatan;IKRAR (Ikatan Kebajikan Rakyat)

"REFORMIS BUKAN HANYA GELARAN ATAU PEJUANG YANG BERJUANG KERANA MENGHARAPKANNYA!"

7 JULAI

Mendengar, melihat dan menganalisa suasana dari China amat membimbangkan kerana ianya boleh memberi indikasi kepada kebangkitan dan kemusnahan. Apakah USA turut juga berperanan sehingga hal begini terjadi. Kita perlu meneliti beberapa isu sebelum ini yang jarang kita dengar kerana ditutup rapi oleh regim x komunis. Sementar saya tampilkan beberapa artikel sedutan dari beberapa web dan blog. I Allah setelah kita dapat memahaminya kita bersama dapat memberi pandangan.

China Memberlakukan Darurat, Akses Internet Diblokir

Selasa, 07/07/2009 11:48 WIB Cetak | Kirim
Pemerintah China memberlakukan situasi darurat di Xinjiang dan memerintahkan agar semua akses internet ditutup. Kebijakan itu diambil menyusul kerusuhan di ibukota Xinjiang, Urumqi sejak hari Minggu (5/7) kemarin. Korban tewas akibat kerusuhan itu mencapai 156 orang.

Kantor berita Cina, Xinhua melaporkan, polisi anti huru hara menangkap 1.500 orang dalam kerusuhan hari kedua, Senin kemarin. Pemerintah China menuding dalang kerusuhan di Xinjiang adalah tokoh-tokoh Muslim China Uighur di pengasingan, bekerjasama dengan kelompok pro-kemerdekaan yang juga terlibat kerusuhan di Tibet bulan Maret tahun 2008 kemarin.

Dalam pidatonya di televisi, Gubernur Xinjiang yang juga seorang Uighur, Nuer Baikeli menyebut "tiga kekuatan" yang dinilainya sudah memanfaatkan aksi protes massa. Menurut istilah yang digunakan pemerintah China, "tiga kekuatan" itu adalah kelompok separatis, kelompok militan dan kelompok ektrimis keagamaan.

Sebuah sumber di pemeirntahan China, seperti dikutip Xinhua, bahkan menuding kerusuhan itu didalangi oleh organisasi Kongres Uighur Dunia pimpinan Rabiya Kadeer. "Ini merupakan aksi kekerasan yang sudah direncanakan dan diorganisir," demikian laporan Xinhua.

Rabiya Kadeer yang kini mengasingkan diri di AS belum memberikan komentar atas tuduhan itu. Pemerintah China selama ini menuduh Rabiya memimpin gerakan separatis dan pernah dipenjarakan selama bertahun-tahun di China.

Sementara itu, komunitas-komunitas Ughur lainnya yang berada di pengasingan menolak tuduhan pemerintah China. Mereka mengatakan, kebijakan diskriminatif pemerintah-lah yang telah memicu aksi protes yang berujung pada kerusuhan dan aksi anarkis.

"Mereka menyalahkan kami untuk mengalihkan perhatian atas penindasan dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah China terhadap Muslim Uighur," kata jubir Kongres Uighur Se-dunia, Dilxat Raxit dari tempat pengasingannya di Swedia.

Sudah bertahun-tahun masyarakat Muslim Uighur memprotes penindasan dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah China. Pemerintah memberikan perlakukan berbeda terhadap Muslim Uighur dengan komunitas Han dari etnis China. Meski jumlah Muslim di Xinjiang lebih dari setengah dari 20 juta jiwa total populasi penduduk di wilayah itu.

"Pemerintah selalu merendahkan kami. Mereka bahkan tidak mau melihat kami karena kami dianggap sebagai manusia bermartabat rendah," kelih seorang Muslim Uighur yang membuka usaha dry-clean di Urumqi.

Ribuan massa hari Senin kemarin kembali terlibat bentrokan dengan 2.000 aparat polisi yang dikerahkan ke Urumqi. Kerusuhan itu menjadi kerusuhan paling buruk di Xinjiang. Pemerintah memberlakukan situasi darurat untuk mengendalikan situasi dan memerintahkan seluruh akses internet ditutup.

"Sejak hari Minggu malam, kami tidak mengakses internet," kata Han Zhenyu, seorang pemilik toko di Urumqi. (ln/aby/iol)

Berita sebelumnya...

Wilayah Muslim di China Diisolasi Pasca Aksi Protes

Senin, 06/07/2009 10:58 WIB Cetak | Kirim
Xinjiang, wilayah China yang mayoritas penduduknya Muslim diisolasi oleh aparat keamanan Negeri Tirai Bambu menyusul aksi massa yang berakhir dengan bentrokan dengan aparat hari Minggu (5/7) kemarin. Akibat bentrokan itu, tiga orang tewas dan lebih dari 20 orang luka-luka.

Kantor berita Xinhua melaporkan, pemerintah setempat tidak menyebutkan berapa banyak orang yang terlibat dalam kekacauan itu. Pihak pemerintah mengatakan bahwa mereka terpaksa mengerahkan aparat kepolisiannya untuk mengendalikan massa yang berkumpul di sejumlah titik di pusat kota dan mulai melakukan aksi anarkis seperti melempari bis-bis, membakar sejumlah kendaraan bermotor dan melakukan penjarahan.

Masih menurut Xinhua, tiga orang yang tewas dalam bentrokan antara massa dan aparat kemarin adalah warga biasa dari etnis Han. Namun Xinhua tidak menyebutkan apakah massa yang terlibat bentrokan hanya dari satu etnis tertentu dan apa motif dibalik aksi massa yang berujung dengan bentrokan itu.

Seorang saksi mata yang tidak mau disbeut namanya mengatakan, awalnya cuma beberapa ratus orang saja yang melakukan aksi protes, tapi kemudian jumlahnya mencapai ribuan. Para pengunjuk rasa berjalan ke pusat kota Urumqi-ibukota Xinjiang-, mengalihkan arus lalu lintas dan mulai melempari bis-bis yang lewat. Tak berapa lama, ribuan polisi anti huru hara datang dan dengan menggunakan gas air mata serta mobil penyemprot air membubarkan aksi massa.

Sejumlah organisasi advokasi Muslim Uighur yang menjadi penduduk mayoritas di Xinjiang mengatakan bahwa aksi protes itu dipicu oleh kebijakan yang diskriminatif serta kontrol terhadap budaya dan agama yang dilakukan pemerintah Cina. Menurut Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Muslim Uighur yang berbasis di Jerman, ribuan pengunjuk rasa itu meminta penjelasan dan mendesak pemerintah pusat untuk menghentikan diskriminasi etnis.

"Kemarahan ini sudah berlangsung sejak lama," kata Raxit. Tapi tuntutan Muslim Uighur tidak pernah digubris oleh pemerintah Cina. Muslim Uighur yang jumlahnya lebih dari 8 juta orang di Xinjiang malah sering menjadi sasaran penangkapan aparat Cina. (ln/iol)

140 terbunuh di Xinjiang


Orang ramai melihat bas dan kereta yang terbakar di sebuah lebuh di bandar Urumqi, ibu negeri wilayah Xinjiang, semalam akibat rusuhan di bandar itu. - AFP


BEIJING 6 Julai - China hari ini menuduh puak pemisah Islam Uighur menggunakan senjata pisau dan kayu belantan ketika mengadakan rusuhan di wilayah bergolak di Xinjiang, menyebabkan sekurang- kurangnya 140 orang terbunuh dan lebih 800 yang lain cedera.

Rakaman mengenai rusuhan itu yang disiarkan semalam oleh rangkaian televisyen tempatan, CCTV menunjukkan beberapa orang lelaki memintas sebuah kereta polis dan memecahkan cermin tingkap kereta itu serta seorang wanita disepak sehingga terjatuh ke tanah serta bas dan kenderaan lain dibakar.

Laporan awal akhbar Xinhua menyatakan, sebelum itu, tiga orang penduduk asal Han China terbunuh dalam rusuhan keganasan tersebut.

Menurut laporan itu, jumlah orang awam dan pegawai polis yang terbunuh, masih belum dapat disahkan.

Pihak berkuasa berkata, kawalan keselamatan telah diperketatkan di sekitar kawasan Urumqi.

Jurucakap polis memberitahu AFP melalui telefon, situasi di bandar itu telah kembali tenang hari ini.

"Semua unit (polis) dan sukarelawan dikerah bagi membantu mengekalkan ketenteraman awam dan keamanan di sini,

"Mereka yang melanggar notis itu akan ditahan dan dihukum," lapor Hinxua, melalui notis yang dikeluarkan Kerajaan Urumqi.

Seorang saksi iaitu pemilik sebuah bar Han China berkata, perusuh telah menguasai bandar ini dan dianggarkan kira-kira 3,000 orang Uighur menyertai rusuhan itu dan sebahagiannya bersenjatakan pisau dan kayu belantan.

Kata pemilik itu, perusuh-perusuh itu telah merosakkan kereta, memecahkan cermin kereta dan cubaan untuk membakar bas.

"Semua pemilik kedai di jalan ini amat takut," katanya kepada AFP melalui telefon. - AFP

Muslim Tewas di Xinjiang Jadi 156 Orang

By Republika Newsroom
Selasa, 07 Juli 2009 pukul 05:30:00

Muslim Tewas di Xinjiang Jadi 156 Orang   DAYLIFE.COM
BEIJING -- Jumlah kematian akibat kekerasan polisi dalam bentrok etnik di daerah Xinjiang, China baratlaut, naik menjadi 156, dan kerusuhan meluas ke kota Kashgar, di mana polisi membubarkan sekitar 200 orang yang berusaha berkumpul, kata media pemerintah, Selasa.

Pemrotes yang marah dari kaum minoritas muslim Uighur turun ke jalan-jalan di ibukota wilayah itu, Urumqi, Minggu. Mulanya demo berjalan damai sampai kemudian muncul ribuan polisi anti huruhara dan mulai terjadi kerusuhan. Massa akhirnya menghancurkan kendaraan serta pertokoan. Bentrok dengan polisi antihuru-hara pun tak terhindarkan.

Akibat bentrokan itu 156 orang muslim tewas. Lebih dari 700 orang ditangkap karena dituduh berperan dalam kekerasan itu, kata kantor berita resmi Xinhua, namun penduduk setempat mengatakan kepada Reuters bahwa polisi melakukan operasi membabi-buta di daerah-daerah Uighur.

Lebih dari 20.000 polisi khusus dan bersenjata, pasukan dan pemadam kebakaran dikerahkan dalam penumpasan kekerasan di Urumqi, namun meski pengamanan diperketat, kerusuhan tampaknya meluas di wilayah bergolak itu.

Sekitar 200 orang yang "berusaha berkumpul" di masjid Id Kah di pusat kota Silk Road Kashgar dibubarkan oleh polisi pada Senin petang, kata Xinhua.

Polisi juga memperoleh "petunjuk" mengenai upaya-upaya untuk mengatur lagi kerusuhan di kota Aksu dan prefektur Yili, sebuah daerah perbatasan yang dilanda kerusuhan etnik pada akhir 1990-an.

Bersama-sama Tibet, Xinjiang merupakan salah satu kawasan paling rawan politik dan di kedua wilayah itu, pemerintah China berusaha mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan petumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Namun, penduduk minoritas telah lama mengeluhkan bahwa orang China Han mengeruk sebagian besar keuntungan dari subsidi pemerintah, sambil membuat warga setempat merasa seperti orang luar di negeri mereka sendiri.

Beijing mengatakan bahwa kerusuhan itu, yang paling buruk di kawasan tersebut dalam beberapa tahun ini, merupakan pekerjaan dari kelompok-kelompok separatis di luar negeri, yang ingin menciptakan wilayah merdeka bagi minoritas muslim Uighur.

Kelompok-kelompok itu membantah mengatur kekerasan tersebut dan mengatakan, kerusuhan itu merupakan hasil dari amarah yang menumpuk terhadap kebijakan pemerintah dan dominasi ekonomi China Han. ant/afp


Muslim Uighur Sudah Lama Tertekan

By Michael Dillon, Sejarawan Islam di China
Rabu, 08 Juli 2009 pukul 05:47:00

Muslim Uighur Sudah Lama TertekanBBC/AP

Tindak kekerasan di Xinjiang tidak terjadi tiba-tiba. Akar penyebabnya adalah ketegangan etnis antara warga Uighur Muslim dan warga Cina etnis Han.

Masalah ini bisa dirunut balik hingga beberapa dekade, dan bahkan ke penaklukan wilayah yang kini disebut Xinjiang oleh Dinasti Qing Manchu pada abad ke-18.

Pada tahun 1940-an, muncul Republik Turkestan Timur di sebagian Xinjiang, dan banyak warga Uighur merasakan itu menjadi hak asasi mereka.

Namun, kenyataannya, mereka menjadi bagian Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, dan Xinjiang dinyatakan sebagai salah satu kawasan otonomi Cina dengan mengesampingkan fakta bahwa mayoritas penduduk di sana pada saat itu orang Uighur.

Status otonomi tidak tulus, dan meski Xinjiang dewasa ini dipimpin oleh gubernur dari kalangan warga Uighur, orang yang memegang kekuasaan riil adalah sekretaris jenderal daerah Partai Komunis Cina , Wang Lequan, yang orang Cina etnis Han.

Perpindahan warga


Di bawah pemerintahan Partai Komunis, terjadi pembangunan ekonomi yang sangat gencar, namun kehidupan warga Uighur semakin sulit dalam 20-30 tahun terakhir akibat masuknya banyak warga Cina muda dan memiliki kecakapan teknis dari provinsi-provinsi di bagian timur Cina.

Para migran ini jauh lebih mahir berbahasa Cina dan cenderung diberi lapangan pekerjaan terbaik. Hanya sedikit orang Uighur berbahasa Cina.

Tidak mengejutkan, ini menimbulkan penentangan mendalam di kalangan warga Uighur, yang memandang perpindahan orang-orang Han ke Xinjiang sebagai makar pemerintah untuk menggerogoti posisi mereka, merongrong budaya mereka dan mencegah perlawanan serius terhadap keuasaan Beijing.

Dalam perkembangan yang lebih baru, anak-anak muda Uighur terdorong untuk meninggalkan Xinjiang untuk mendapatkan pekerjaan di belahan lain Cina, dan proses ini sudah berlangsung secara informal dalam beberapa tahun.

Ada kekhawatiran khusus atas tekanan pemerintah Cina untuk mendoroang wanita muda Uighur pindah ke bagian lain Cina untuk mendapatkan pekerjaan. Dan, ini memperkuat kekhawatiran bahwa mereka akhirnya akan bekerja di bar atau klub malam atau bahkan pelacuran tanpa perlindungan keluarga atau masyarakat mereka.

Islam adalah bagian integral kehidupan dan identitas warga Uighur Xinjiang, dan salah satu keluhan utama mereka terhadap pemerintah Cina adalah tingkat pembatasan yang diberlakukan oleh Beijing terhadap kegiatan keagamaan mereka.

Jumlah masjid di Xinjiang merosot jika dibandingkan dengan jumlah pada masa sebelum tahun 1949, dan institusi keagamaan itu menghadapi pembatasan yang sangat ketat.

Anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak diizinkan beribadah di masjid. Demikian juga pejabat Partai Komunis dan aparat pemerintah.

Madrasah dibatasi


Lembaga-lembaga Islami lain yang dulu menjadi bagian sangat penting kehidupan kegamaan di Xinjiang dilarang, termasuk persaudaraan Sufi, yang berpusat di makam pendirinya dan menyediakan jasa kesejahteraan dan semacam kepada anggotanya.

Semua agama di Cina dikendalikan oleh Administrasi Negara untuk Urusan Agama, tapi pembatasan terhadap Islam di kalangan warga Uighur lebih keras daripada terhadap kelompok-kelompok lain, termasuk etnis hui yang juga muslim, tapi penutur bahasa Cina.

Ketatanya pembatasan itu akibat pertautan antara kelompok-kelompok muslim dan gerakan kemerdekaan di Xinjiang. Gerakan ini sangat bertentangan dengan posisi Beijing.

Ada kelompok-kelompok di dalam Xinjiang yang mendukung gagasan kemerdekaan, tapi mereka tidak diperkenakan mewujudkannya secara terbuka, sebab "memisahkan diri dari ibu pertiwi" dipandang sebagai penghianatan.

Pada dekade 1990-an, setelah ambruknya Uni Soviet dan munculnya negara-negara muslim independen di Asia Tengah, terjadi peningkatan dukungan terbuka atas kelompok-kelompok "separatis", yang memuncak pada unjukrasa massal di Ghulja pada tahun 1995 dan 1997.

Beijing menindas unjukrasa dengan penggunaan kekuataan luar biasa, dan para akitvisi dipaksa keluar dari Xinjiang ke Asia Tengah dan Pakistan atau terpaksa bergerak di bawah tanah.

Iklim ketakutan


Penindasan keras sejak digulirkannya kampanye "Strike Hard" (Gebuk Keras" pada 1996 mencakup kebijakan memperketat pengendalian terhadap kegiatan agama, pembatasan pergerakan orang dan tidak menerbitkan paspor dan menahan orang-orang yang didicurigai mendukung separatis dan anggota keluarga mereka.

Ini menciptakan iklim ketakutan dan kebencian sangat kuat terhadap pemerintah Cina dan warga Cina etnis Han.

Mengejutkan bahwa kebencian ini tidak meledak menjadi kemarahan publik, dan unjukrasa sebelumnya, tapi itu dampak ketatnya kontrol yang diberlakukan Cina atas Xinjiang.

Ada banyak organisasi kaum pendatang Uighur di Eropa dan Amerika Serikat. Dalam banyak kasus mereka mendukung otonomi sejati bagi kawasan tanah asal mereka.

Di masa lalu, Beijing juga mempersalahkan Gerakan Islami Turkestan Timur memicu kerusuhan, meski tidak ada bukti bahwa gerakan ini pernah muncul di Xinjiang.

Aparat di Beijing tidak bisa menerima bahwa kebijakan mereka sendiri di Xinjiang mungkin penyebab konflik, dan berupaya mempersalahkan orang luar yang mereka tuding memicu tindak kekerasan. Itu juga terjadi dalam kasus Dalai Lama dan Tibet.

Kalau pun organisasi pelarian Uighur ingin menggerakan kerusuhan, tentu sangat sulit bagi mereka untuk melakukannya, dan ada banyak alasah lokal menjadi penyebab kerusuhan tanpa perlu ada campur tangan dari luar. bbc/ahi