foto-foto aktiviti dakwah dan kemanusiaan

foto-foto aktiviti dakwah dan kemanusiaan

Monday, August 24, 2009

RAMADHAN DI BEBERAPA NEGARA D I DUNIA..

IKRAR: (Ikatan Kebajikan Rakyat). Badan bebas dan non partisan. Fokus kepada nasib dan kebajikan rakyat.

Muslim Jerman, Ramadan di Tengah Kampanye Anti-Muslim

Senin, 24/08/2009 09:27 WIB

Muslim Jerman menjalankan ibadah puasa tahun ini dalam suasana yang masih diliputi keprihatinan pasca wafatnya martir jilbab Marwa Al-Sherbini yang ditusuk oleh seorang pemuda Jerman anti-Islam. Keprihatinan itu makin mendalam karena kelompok-kelompok kiri di negeri itu terus melakukan kampanya anti-Muslim.

Hari pertama Ramadan di Jerman jatuh pada Jumat, (21/8). Direktur Islamic Assembly di Jerman, Ibrahim El-Zayat mengungkapkan bahwa masyarakat Muslim Jerman menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini di tengah situasi yang tidak bersahabat. "Bulan suci ini bahkan diwarnai oleh maraknya pemberitaan media yang cenderung fokus pada masalah islamofobia di Jerman menyusul wafatnya Marwa Al-Sherbini," kata El-Zayat.

Situasinya makin tak ramah bagi komunitas Muslim karena partai-partai sayap kiri makin meningkatkan kampanye anti-Muslim menjelang pemilu parlemen bulan September mendatang. Menurut El-Zayat, sejumlah partai kiri di Jerman, terutama di Cologne berusaha merebut simpati rakyat dengan menakut-takuti warga soal Islam dan Muslim. Organisasi kanan jauh "Pro-Cologne" misalnya, menkampanyekan perlawanan terhadap rencana komunitas Muslim yang ingin membangun masjid di kota terbesar keempat di Jerman itu.

Meski dihadapkan pada situasi yang tidak ramah, komunitas Muslim Jerman tetap semangat melakukan berbagai inisiatif untuk mempererat hubungan dengan masyarakat setempat. Salah satu kegiatan yang dilakukan komunitas Muslim bekerja sama dengan sejumlah pemerintahan kota adalah menyediakan makanan untuk berbuka bukan hanya untuk mereka yang Muslim tapi untuk siapa saja yang kebetulan lewat di tempat penyediaan ta'jil.

Tapi, Ramadan tahun inimenjadi Ramadan yang istimewa karena seluruh komunitas Muslim Jerman sepakat bahwa awal Ramadan jatuh pada hari Jumat (21/8). Tahun-tahun sebelumnya, warga Muslim di Jerman yang berasal dari berbagai latar belakang, kerap berbeda dalam menentukan tanggal 1 Ramadan. Saat ini, terdapat lebih dari 4 juta Muslim di Jerman dan mayoritas adalah Muslim asal Turki. (ln/iol)

24 OGOS

Sedutan dari eramuslim.com...(sangat menarik untuk merasakan bahawa UMMATAN WAHIDAH...ISLAM BUKAN UNTUK MELAYU SAHAJA...)



Nasib Muslim Pakistan, Ramadhan di Kamp Pengungsian

Senin, 24/08/2009 10:36 WIB

Setiap Muslim menginginkan bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan nyaman, tak kekurangan apapun. Tapi situasi berbeda dialami ribuan Muslim Pakistan yang kini hidup dalam pengungsian. Mereka meninggalkan rumah-rumah mereka yang nyaman untuk menghindari pertempuran antara pasukan militer pemerintah dan kelompok Taliban

Sejak pemerintah Pakistan menggelar operasi militernya untuk memburu kelompok Taliban di wilayah Swat, baratlaut Pakistan bulan April lalu, lebih dari 3 juta warga Swat menjadi pengungsi dan sekarang terpaksa hidup dalam kamp-kamp pengungsian.

Tentu saja, menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan di kamp pengungsi yang kondisinya serba terbatas bukan hal yang nyaman bagi keluarga-keluarga Swat, karena Ramadan adalah bulan yang suci bagi Muslim dimana mereka harus berpuasa, dimana mereka seharusnya bisa menjalankan salat berjamaah dengan khusyuk, dimana mereka berharap mendapatkan berkah bulan suci Ramadan.

Mubashir Fida dari bidang komunikasi Palang Merah Internasional dan Masyarakat Bulan Sabit Merah mengungkapkan, bahwa saat ini merupakan masa-masa yang berat bagi para pengungsi. "Selama beberapa bulan ini mereka harus bertahan hidup dan berharap bisa kembali ke rumah mereka pada saat Idul Fitri, berkumpul dan merayakannya bersama keluarga," kata Fida mengungkapkan tentang kondisi para pengungsi.

Seorang pengungsi bernama Bibi Amina, 35, dengan wajah muram mengungkapkan perasaan sedihnya karena harus menjalani bulan suci Ramadan di bekas peternakan yang dijadikan kamp pengungsi bersama tujuh anak dan kedua orangtuanya yang sudah berusia lanjut.

"Kami tidak bahagia melewati bulan Ramadan di sini. Kami ingin pulang ke rumah dan menjalani kehidupan yang normal," kata Bibi yang terpaksa meninggalkan rumahnya di Swat ketika militer AS menggempur desanya dengan serangan udara.

"Tapi kami tidak punya pilihan lain selain tinggal di sini. Rumah saya hancur saat terjadi pertempuran, sekolah-sekolah anak saya juga hancur dan saya tidak punya uang untuk membiayai hidup keluarga saya jika saya kembali pulang," keluh Bibi.

Ungkapan kesedihan juga dilontarkan oleh Mohammad Alam, 25. Ia dan isterinya berada di kamp yang sama dengan Bibi. "Saya merasa sangat nelangsa ketika pertama kali sampai ke kamp pengungsian ini. Tidak ada apa-apa di sini. Saya pikir ini tempat buat kandang ayam, bukan untuk manusia," keluh Mohammad Alam yang mengungsi dari kota Mingora sejak tiga bulan yang lalu.

"Kami ingin pulang untuk merayakan Idul Fitri, tapi kami harus menghabiskan bulan suci Ramadan di sini tanpa keluarga. Sangat sulit menjalankan ibadah puasa Ramadan dalam kondisi seperti ini, tidak ada keceriaan seperti yang selalu kami rasakan setiap Ramadan," tukas Alam.

Para pengungsi yang daerahnya relatif aman pun mengaku masih enggan kembali pulang sampai Idul Fitri, karena mereka harus memperbaiki rumah-rumah mereka yang rusak.Selain itu, di tempat asal mereka tidak ada persediaan makanan dan air bersih setiap hari.

"Kami harus menetap di sini, setidaknya untuk sementara. Saya tidak bisa membawa pulang isteri dan anak-anak ke desa yang jaraknya cukup jauh dan mereka melihat rumah mereka hancur, tidak ada makanan dan tidak ada air," kata seorang pengungsi.

Dua hari sebelum Ramadan, para pengungsi yang terdiri dari kaum perempuan dan remaja puteri berkumpul di sebuah ruangan yang dijadikan tempat salat. Mereka membaca Al-Quran, berdoa agar kedamaian segera datang di Pakistan dan segera lepas dari rasa takut di bawah pengaruh Taliban selama dua tahun ini yang membuat mereka menjadi pengungsi. (ln/wb)


Uniknya Puasa dan Sholat di Moskow, Rusia

Senin, 24/08/2009 14:06 WIB
Dan sebaliknya bila puasa di musim dingin dan puncak musim dingin, waktu puasa sangat pendek. Imsyak kurang lebih jam 07.00 dan jam 15.30 sudah magrib itu di Moskow, di utara lebih pendek lagi, lebih ke utara lebih pendek lagi dst. Kalau musim dingin dan puncaknya musim dingin maka di dekat kutub atau di kutub utara itu yang ada hanya malam saja, tak ada siang, tak ada matahari, apakah kewajiban puasa menjadi hilang ? Karena kan matahari tak akan muncul sepanjang waktu tersebut.

Bismillahirrohamnirrohiim.

Alhamdulilahirrobil alamin, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Allah yang telah menciptakan alam ini demikian ajaibnya , sehingga terpesona dibuatnya. Salah satu keunikan dan keajaiban ciptaaNya adalah di ciptakannya Bumi yang bulat, bumi yang berotasi pada dirinya sambil berputar bersama-sama planet yang lainnya mengelilingi matahari.

Berotasinya bumi ini menyebabkan terjadinya siang dan malam, nah siang dan malam yang bagi kita di Indonesia sepertinya kejadian yang biasa saja, tak ada yang aneh, tak ada yang unik, biasa-biasa saja karena waktu siang dan malamnya relative sama, 12 jam. Baik di musim panas maupun di musim hujan, begitu juga waktu sholat relative sama, waktu dzuhur, asyar, magrib, isya dan subuh relative sama, baik di musim hujan maupun di musim panas. Dengan demikian kita di Indonesia, apa lagi di musim panas, sudah bisa mengira-ngira, kapan waktu dzuhur, asyar, magrib, isya atau subuh. Tapi tak demikian hal jika kita berada di Rusia, khususnya di kota Moskow dan kota St Peterburgs.

Maka ketika membaca buku: Tahajud siang hari, dzuhur malam hari, saya langsung teringat ke kota Leningrad ( St Peterburgs sekarang) di mana pada tahun 2002 Saya , keluarga dan teman2 berwisata ke sana untuk melihat “ malam putih “ ( White Nigth ), “Bilii Nosii” kata orang Rusia. Jadi, tepat pada tengah malam tanggal 22/23 Juni 2002 kita semua berada pada suasana, yang unik yaitu : Malam dan Siang tidak punya batas, di katakan siang kita ada di tengah malam, di katakan malam, tapi warna jingga matahari masih berada di upuk barat, Padahal jam di tangan sudah menunjukkan jam 00, 30 waktu setempat. Nah kalau di kaitan dengan waktu sholat, antara sholat Insya dan subuh sangat dekat, hanya kurang lebih 2 Jam. Waktu Insya jam 23.48 dan jam 02.15 sudah subuh ! Jadi kapan kita sholat tahajud ? Ya di tengah-tengah malam yang siang atau di tengah-tengah siang yang malam. Bahkan kalau kita lebih ke utara lagi ke negara tetangga di utara Rusia, yaitu Finland.

Di bagian utara Finland pada saat yang sama, matahari tetap saja berada di kaki langit, tidak terbenam tapi juga tidak beranjak dari kaki langit, ya suasana tetap saja siang padahal ada di tengah malam. Matahari ada di tengah malam ! Lalu kapan sholat isya, sholat tahajud dan sholat subuh ? karena tiga waktu tersebut menyatu dalam satu waktu . Nah di sinilah ijtihad para ulama diperlukan. Karena kalau waktu sholat hanya berdasarkan peredaran matahari, maka pada saat puncak musim panas di Leningrad atau negara-negara yang ada di ujung kutub utara , tiga waktu sholat yaitu, isya, tahajud dan subuh akan di lakukan bersamaan. Ini akan sesuai dengan judul buku Agus Mostopa : Tahajud siang hari, dzuhur malam hari. Penerbit Padma Press.

Hal yang di jelaskan diatas berhubungan dengan sholat, lalu bagaimana dengan puasa di Musim panas dan pada saat puncak musim panas ? Apakah tetap mengikuti peredaran matahari di musim panas, di mana subuh jam 02.25, berarti imsyaknya lebih kurang dari itu, yaitu jam 02.05 dan magrib kurang lebih jam 22.20, jadi kalau di lakukan puasa memakan waktu sangat panjang, kurang lebih 20 jam ! Ini di Moskow, di utara Moskow lebih panjang lagi, lebih ke utara menjelang kutub utara dan di kutub utara sendiri, boleh di katakan 24 jam hanya matahari, hanya ada siang, tak ada malam, jadi apakah puasa sepanjang itu ? Lagi-lagi ijtihad para ulama diperlukan.

Dan sebaliknya bila puasa di musim dingin dan puncak musim dingin, waktu puasa sangat pendek. Imsyak kurang lebih jam 07.00 dan jam 15.30 sudah magrib itu di Moskow, di utara lebih pendek lagi, lebih ke utara lebih pendek lagi dst. Kalau musim dingin dan puncaknya musim dingin maka di dekat kutub atau di kutub utara itu yang ada hanya malam saja, tak ada siang, tak ada matahari, apakah kewajiban puasa menjadi hilang ? Karena kan matahari tak akan muncul sepanjang waktu tersebut.

Mengenai dzuhur di siang haripun, masih masuk di akal, karena bumi yang bulat ini, dan ini lagi-lagi kebesaran Tuhan, karena Dia berfirman : Tidak Ku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaku. Jadi sebenarnya dalam setiap waktu diasaat bumi terus berputar pada saat itupula Allah swt di sembah. Karena bumi bulat, otomatis waktu sholatpun di tiap negara akan berbeda waktunya, pada saat yang bersamaan di satu negara ada yang sedang sholat tahajud di malam hari, tapi di negara lain pada saat yang sama sedang sholat dzuhur di siang hari.

Dan kalau di tarik garis lurus orang yang sedang tahajud di malam hari di satu negara, sebenarnya sedang tahajud di siang hari di waktu yang bersamaan di negara lainnya, seperti orang yang sedang sholat tahajud di Indonesia pada tengah malam, kalau di tarik garis lurus menembus bumi maka pada saat itu sebenarnya sedang siang hari, atau sedang dzuhur di Amerika bagian Timur. Begitu juga sebaliknya, pada saat orang Amarika sholat dzuhur di siang hari kalau di tarik garis lurus menembus bumi, pada saat yang bersamaan sebenarnya lagi waktu tengah malam, waktunya sholat tahjud.

Untuk puasa di Moskow dan negara-negara di Eropa, Libya dan Libanon bulan ramadhan 1430 Hijriah di mulai hari Jum’at 21 Agustus 2009, jadi sudah terawih sejak malam Jum’at, beda dengan aliran Nasyabandiayh yang mulai puasa tgl 20 Agustus dan di Indonesia mulai tanggal 22 Agustus 2009. Untuk ramdahan tahun ini di Moskow puasa masih di akhir musim panas menuju awal musim gugur. Sahur sekitar jam 04 pagi dan buka sekitar jam 21 waktu setempat, jadi rata-rata sekitar 15 Jam. Dan tahun-tahun mendatang puasa di Moskow dan Rusia pada umumnya akan lebih panjang lagi waktu puasanya.

Demikian pengalaman unik puasa dan sholat di Rusia, semoga bermanfaat. (Kiriman dari Syaripudin Zuhri)

Ramadhan di Berlin

Sabtu, 22/08/2009 08:40 WIB
Bagi muslim indonesia yang tinggal di berlin, masjid alfalah menjadi tempat yang sangat dirindukan pada bulan ramadhan ini. Tarawih bersama dan dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang ustadz yang sengaja diundang dari tanah air untuk mentraining kami selama sebulan penuh.

Bagi muslim indonesia yang tinggal di berlin, masjid alfalah menjadi tempat yang sangat dirindukan pada bulan ramadhan ini. Tarawih bersama dan dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang ustadz yang sengaja diundang dari tanah air untuk mentraining kami selama sebulan penuh. Tak ketinggalan pula pagi hari sesudah sahur dilakukan sholat shubuh berjamaah. Tema-tema kuliah shubuh ramadhan tahun ini berkisar tentang tazkiyatun nafs. Ustadz salem barahem menyampaikan nasihat-nasihatnya dengan lembut dan mengena.

Bagi ibu-ibu yang tergabung dalam kajian selasa ummul falah, setiap senin sampai kamis pagi di bulan ramadhan ini, dilakukan tadarus bersama yang dilanjut ceramah oleh ustadz. Tema yang disampaikan memang banyak berkenaan dengan keseharian, apalagi tanya jawabnya. Pengalaman-pengalaman sebelumnya, acara pagi dengan ustadz dimanfaatkan oleh ibu-ibu untuk menannyakan banyak hal yang selama ini masih mengganjal, khususnya masalah keseharian tinggal di negeri asing ini. Tema makanan halal pun hampir setiap tahun ada saja yang menanyakannya.

Sabtu sore,sekitar pukul 15.00, masjid pun diserahkan sepenuhnya untuk para pemuda-pemudi mahasiswa untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mendapatkan banyak taushiyah dari ustadz. Mereka berbeda dalam usia maupun level studinya. Ada yang masih studkoll, ad yang baru semester awal, tapi ada juga yang hampir selesai master. Mahasiswa S3 biasanya ikut bergabung di hari ahad dengan acara bapak-bapak.

Setelah waktu untuk kajian buat para pemuda-pemudi mahasiswa selesai, maka ruangan masjid pun segera dipenuhi oleh hampir seluruh masyarakat muslim indonesia di berlin ini. Ya, sabtu adalah hari berbuka puasa bersama di masjid tercinta ini. Tua-muda, besar-kecil pun perlahan tapi pasti telah memenuhi seluruh ruangan masjid. Ibu-ibu dan beberapa mahasiswi yang hari itu bertugas, telah sibuk menata makanan di dapur. Yang lainnya tampak akrab berramah tamah dan bertukar cerita.

Anak-anak bergerombol di ruang anak-anak, para remaja yang rata-rata berusia 12-an tahun pun berkumpul dengan pembicaraan mereka.

Subhanallah...tampak kumpulan-kumpulan masyarakat sesuai dengan usia dan tema pembicaraannya. Sampai kemudian terdengar adzan maghrib berkumandang, dan kerumunan itu pun berpindah pandangan ke arah gelaran plastik di depan mereka. Dimana telah disediakan air putih, kurma dan beberapa makanan kecil sumbagan dari para jamaah. Alhamdulillah puasa hari itu diakhiri dengan berbuka puasa bersama yang insyaalloh penuh dengan barokah.

Setelah cukup berbuka dengan makanan pembuka, gelaran-gelaran plastik dan juga gelas-gelas plastik pun dirapikan kembali. Tidak ada makanan sedikitpun berada di tempat yang akan djadikan tempat sholat maghrib. Suasana kembali tenang dan khusyu,karena suara iqomat sudah diperdengarkan.

Selepas sholat maghrib, kembali plastik alas makan di gelar. Dipisahkan untuk laki-laki, perempuan dan juga buat anak-anak. Menu makan buka puasa biasanya adalah khas menu tanah air yang segar. Adakalanya sayur asam,sayur lodeh, tempe,tahu. Daging dan ayam yang sudah menjadi makanan sehari-hari disini, biasanya akan diambil ketika tahu dan tempe sudah habis. Kerupuk dan sambal pun biasanya tak ketinggalan menemani menu berbuka ini.

Hilir mudik para petugas piket membagikan makanan dan meletakkannya di alas plastik yang sudah tersedia. Juga menambah manakala di kelompk tertentu sudah kehabisan nasi, atau kehabisan sambal dan lain-lainnya. Subhanallah...sungguh suatu kebersamaan yang tiada taranya. Hanya karena nikmat-Nya kami bisa dipertemukan dalam suasana bahagia ini.

Ahad pukul 17.00-19.00, para bapak yang tergabung dalam pengajian alhisab sudah tak sabar menanti tausiyah ustadz. Tapi khusus di bulan ramadhan, yang hadir bukan hanya dibatasi untuk pengajian alhisab saja, tetapi lebih terbuka untuk para bapak yang memang ingin datang menambah pengetahuan,keilmuan dn juga insyaallh keimanan. Lain ibu-ibu, tentu saja lain pula bapak-bapak.

Biasanya diskusi yang ada dalam forum bapak-bapak biasanya cukup alot, karena banyak argumen-argumen yang dituangkan disana. Namun alhamdulillah. Meskipun pada saat diskusi tergadang cukup tegang, tapi selepas diskusi suasana akrab tak hilang dri mereka. Hangat dan akrab. (Kiriman Dewi Yuniasih, Berlin)

Foto-foto : Flickr

Ramadhan di Trondheim, Potret Silahturrahim Muslim Indonesia di Belahan Bumi Paling Utara

Senin, 29/09/2008 23:36 WIB
Berpuasa di daerah yang dekat dengan wilayah kutub sangatlah berbeda dengan di tanah air dimana pergantian siang dan malam berputar stablil sepanjang tahun. Di Trondheim, bulan Ramadhan tahun ini jatuh di akhir musim panas dimana waktu siang rentangnya cukup panjang. Di awal Ramadhan lama puasa di daerah ini mencapai 16 jam, dimulai pukul 04:30 pagi hingga 20:30 malam. Sebuah perjuangan yang cukup menguji iman.

Tulisan ini datang dari salah satu daerah paling utara, sebuah kota kecil bernama Trondheim, di negara Norwegia. Kota ini tepatnya berada pada 63,25′ lintang utara dan 10,23′ bujur timur, hanya 500 km jaraknya dari polar circle/ lingkar kutub utara.

Karena letaknya yang nyaris di ujung utara bumi, daerah ini beriklim dingin, dengan suhu udara terendah sepanjang tahun 2008 mencapai 14,5°C di bawah nol! Pada saat siang terpanjang di musim panas matahari menyinari Trondheim hingga 22 jam. Kapan matahari terbit dan tenggelam nyaris tak bisa disaksikan mata. Datangnya malam hanya ditandai dengan semburat merah di langit mencipta cahaya alam yang remang-remang. Sebaliknya di musim dingin, dalam sehari cahaya matahari mampir hanya beberapa jam, lalu gelap berkawan suhu dingin menusuk tulang.

Berpenduduk sekitar 165.000 jiwa, Trondheim dikenal sebagai pusat pendidikan dan penelitian teknologi di Norwegia. Beberapa tahun terakhir jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di kota ini, tepatnya di Norwegian University of Science and Technology terus meningkat. Sebagian besar yang merupakan mahasiswa Muslim menambah pula angka komunitas muslim Indonesia yang tergabung dalam Keluarga Muslim Indonesia di Trondheim (KMIT). Saat ini KMIT beranggotakan kurang lebih 80 orang yang terdiri dari para profesional dan mahasiswa Indonesia beserta keluarga.

Berpuasa di daerah yang dekat dengan wilayah kutub sangatlah berbeda dengan di tanah air dimana pergantian siang dan malam berputar stablil sepanjang tahun. Di Trondheim, bulan Ramadhan tahun ini jatuh di akhir musim panas dimana waktu siang rentangnya cukup panjang. Di awal Ramadhan lama puasa di daerah ini mencapai 16 jam, dimulai pukul 04:30 pagi hingga 20:30 malam. Sebuah perjuangan yang cukup menguji iman. Kondisi ini pula yang kemudian membuat keluarga Muslim Indonesia di Trondheim tidak begitu leluasa merancang program Ramadhan dengan kegiatan buka puasa atau tarawih bersama secara rutin. Namun begitu, Ramadhan di Trondeim tak kalah syahdunya. Tetap sarat silaturrahim dan suasana keislaman yang kental.

Tak ingin mengurangi kesempatan meningkatkan amal ibadah di bulan Ramadhan, teknologi internet kiranya menjadi solusi yang sangat membantu untuk berkomunikasi satu sama lain. Karena tak mudah untuk berkumpul secara nyata, di alam maya dirancang kegiatan bersama. Tilawah Al-Quran Online digelar setiap hari sebelum masuk waktu berbuka puasa. Dalam program ini peserta tilawah terhubung dengan program teleconference di jaringan internet, lalu membaca Al-Quran secara bergiliran. Salah seorang menjadi host dan moderator untuk mengatur lalu lintas anggota tilawah di jaringan. Satu juz bacaan per hari ditargetkan, hingga inshaallah khatam Alquran terwujud di akhir bulan suci.

Dalam prakteknya tilawah dengan memanfaatkan teknologi ini kadang juga mengalami kendala. Mulai dari jaringan yang tiba-tiba terganggu, perangkat yang kurang menunjang kualitas suara, atau jumlah peserta yang pada suatu waktu tiba-tiba membludak melebihi kapasitas, sehingga perlu di pecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Hal-hal seperti ini kiranya menjadi pengalaman yang juga menarik dan perlu trik-trik tersendiri untuk mengatasinya.

Dua kali seminggu, pada hari Senin dan Rabu, diadakan pula Kajian Keislaman Online bersama keluarga muslim Indonesia di Skandinavia. Silih berganti para dai muda yang sedang menuntut ilmu di negara-negara Skandinavia memberikan tausyiah bagi muslimin Indonesia yang tersebar di Norwegia, Swedia dan Denmark.

Akhir pekan merupakan waktu yang selalu dimanfaatkan kaum Muslimin untuk berkumpul. Sebagaimana juga di luar Ramadhan, setiap minggu siang digelar Kajian Rutin KMIT, dilengkapi kegiatan TPA untuk anak-anak. Di Indonesia tentunya keberadaan TPA adalah sesuatu yang sudah sangat biasa. Namun di Trondheim, karena umat Islam tak banyak jumlahnya menjadikan peranan TPA semakin besar untuk menciptakan atmosfir keislaman dalam perkembangan anak-anak Muslim yang sehari-hari berada di lingkungan sekolah yang berbudaya lokal. Tidak saja untuk menunjang tugas utama orang tua dalam mengajarkan tentang dienullah, namun juga sejak dini menanamkan rasa kebersamaan dan persaudaraan antar anak-anak muslim sebagai saudara seiman.

Forum kajian rutin mingguan dibuka dengan tilawah Al Quran secara bergiliran, sambil saling mengoreksi bacaan dan menyempurnakan tajwid. Sesi kedua adalah kultum yang di sampaikan secara bergantian oleh para anggota setiap minggu. Materi utama di sesi ketiga mendapat porsi waktu terbesar dengan pembahasan seputar tauhid, ibadah, atau muamalah. Sejak mulanya hanya satu dua orang diantara anggota yang menjadi pemateri utama, kini inshaallah telah semakin tumbuh kader-kader dai dari kalangan anggota yang di asah untuk menggali ilmu-ilmu keislaman dan memantapkan langkah dalam da'wah Islamiyyah.

Di samping untuk mengkaji ilmu-ilmu agama, forum KMIT juga menjadi wadah untuk memusyawarahkan berbagai hal untuk kemaslahatan bersama. Bagi yang ingin menuntut ilmu lebih mendalam, setiap Sabtu malam digelar pula forum khusus kajian tafsir Al-Quran. Tak ketinggalan perpustakaan mini dikelola secara virtual dengan memberdayakan buku-buku koleksi pribadi dari para anggota.

Sedikit berbeda dengan bulan-bulan lainnya, di bulan Ramadhan ini kajian rutin difokuskan pada materi seputar Ramadhan: puasa, shalat malam/tarawih, zakat fitrah dan shalat Ied. Dengan menggali materi tersebut secara mendalam, kiranya ibadah Ramadhan dapat dimaksimalkan. Tak lupa pengumpulan zakat, infaq dan sadaqah menjadi agenda rutin dan terkoordinir, mengingat keberadaan Muslimin sebagai kaum minoritas di Norwegia menuntut juga kemandirian dan inisiatif yang tinggi agar dapat melaksanakan tuntunan agama secara optimal.

Kini Ramadhan sampai di penghujung, Idul Fitri menjelang. Suasana hari kemenangan di Trondheim kiranya jauh suara beduk dan gema takbir yang gemuruh, seperti lazimnya di tanah air. Namun hati kaum muslimin yang terpaut erat inshaallah sanantiasa suka cita dalam ukhuwwah Islamiyyah yang indah. Taqaballaahu minna wa minkum! ( Yeni Mulia/Trondheim, Norwegia)

Semaraknya Ramadhan Masyarakat Indonesia di Austria

Wednesday, 24/09/2008 09:21 WIB
Kegiatan Ramadhan di KBRI Wina tahun ini sangat diminati oleh warga, karena selain lezatnya makanan berbuka yang disiapkan oleh ibu-ibu Wapena, kegiatan ini dijadikan kesempatan oleh warga untuk menggali dan mengimplementasikan nilai-nilai keislaman yang dipaparkan oleh ustadz Atabik.

Alhamdulillah tahun 2008 ini Warga Pengajian Wina (Wapena) yang merupakan paguyuban pengajian warga Indonesia di Wina telah berhasil mendatangkan seorang Ustadz selama bulan Ramadhan. KBRI Wina yang selalu mendukung program kegiatan Wapena – seperti tahun-tahun sebelumnya – menyediakan aulanya untuk dijadikan pusat kegiatan keislaman warga Indonesia di kota cantik di tengah benua Eropa ini.

Dengan komitmen warga dan semangat berswadaya secara finansial yang cukup tinggi, warga Wapena telah menghadirkan Ustadz Dr. Atabik Luthfi, MA, seorang ustadz yang ahli dalam bidang tafsir kontemporer, menguasai bidang fiqih dan seorang yang menggiatkan diri dalam kegiatan dakwah. Ustadz Atabik selain berprofesi sebagai dosen, juga menjabat sebagai ketua Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi) wilayah DKI Jakarta.

Kedatangan seorang ustadz ini dirasa penting dan relevan oleh warga Wapena, yang mendambakan seorang ahli yang dapat menjawab persoalan-persoalan keseharian mereka terkait masalah fiqih, ibadah, pendidikan anak, tafsir ayat Al Qur’an dan Hadits serta pemahaman keislaman dalam konteks sebagai Muslim di negeri Barat. Wargapun meminta ustadz untuk menemani dan memberikan panduan dan bimbingan selama bulan suci yang penuh berkah ini.

Kegiatan Ramadhan di aula KBRI Wina sendiri diadakan tiap hari Rabu, Jum’at dan Sabtu. Aktivitas tersebut biasanya diawali dengan buka puasa bersama, sholat Maghrib berjama’ah, makan malam, kajian oleh ustadz dan diskusi, salat Isya dan ditutup dengan salat Tarawih. Saat menentukan awal puasa, ustadz dan panitia menyempatkan berkunjung ke Vienna Islamic Center – yang merupakan satu-satunya bangunan berbentuk masjid besar di antara ratusan masjid kecil di Wina – untuk memastikan awal puasa bagi warga Indonesia di Austria. Masjid Islamic Centre dijadikan referensi karena jalinan kontak langsung dengan Pemerintah Arab Saudi.

Kegiatan Ramadhan di KBRI Wina tahun ini sangat diminati oleh warga, karena selain lezatnya makanan berbuka yang disiapkan oleh ibu-ibu Wapena, kegiatan ini dijadikan kesempatan oleh warga untuk menggali dan mengimplementasikan nilai-nilai keislaman yang dipaparkan oleh ustadz Atabik. Salah satu kajian menarik yang dibawakan adalah bedah buku "The Seven Islamic Daily Habits" yang mencoba mengupas esensi ayat-ayat dalam surat Al Fatihah dalam pengejewantahan aplikatifnya ke dalam kehidupan diri seorang Muslim sehari-hari.

Selain warga Indonesia yang rutin hadir dalam acara pengajian, alhamdulillah Wapena juga menjadi wadah bagi warga Malaysia dan Singapura yang ikut berbaur dalam acara-acara keislaman tersebut. Bahkan, semangat warga Wapena dapat terlihat dari padatnya acara ustadz selama di Austria. Jika kebetulan acara tidak dilangsungkan di KBRI, warga dengan inisiatif sendiri mengundang ustadz untuk berbuka puasa di rumah mereka dan tentunya diselingi dengan kajian singkat lengkap dengan tanya jawab.

Meski banyak warga Wapena yang telah tinggal lama di Austria, namun kecintaan mereka terhadap Islam tidak pernah padam. Ramadhan sebagai bulan saling berinteraksi, mengayomi, silaturrahmi dan beribadah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga untuk sarana taqarrub ilallaah (mendekatkan diri kepada Allah swt). Bahkan juga terlihat beberapa warga secara antusias terlibat percakapan dengan ustadz untuk sekedar curhat dan menanyakan persoalan pribadi untuk mendapatkan jawaban yang sesuai syar’i.

Ustadz Dr. Atabik Luthfi dalam beberapa kesempatan menekankan kepada jama’ah untuk memperbaiki kualitas diri sebagai seorang Muslim dengan peningkatan kualitas ibadah mahdhoh, memperbanyak ibadah sunnah dan merekatkan silaturrahmi dan persaudaraan (ukhuwwah) sesama Muslim. Tentunya harapan ini dapat tercapai, jika setiap diri berkomitmen dengan keislamannya, lalu menanamkan pengaruh yang kuat dalam keluarganya dan menciptakan komunitas yang bersemangat dalam kesatuan serta saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran

Untuk mendapatkan generasi unggulan yang bermoral, maka komunitas Wapena telah mengadakan beberapa lomba untuk anak-anak dalam memperingati Nuzulul Qur’an. Pengurus Warga Pengajian Wina mengadakan lomba membaca Al Qur’an, menghapal surat-surat pendek dan do’a-do’a keseharian serta beberapa kuis untuk mengetahui pemahaman anak-anak mengenai Islam. Dalam acara penuh kegembiraan ini, anak-anak yang menang lomba mendapatkan hadiah sementara semua peserta juga memperoleh hadiah hiburan.

Mudah-mudahan setiap hari di bulan suci ini, akan menambah keimanan para warga Wapena pada khususnya dan kita semua pada umumnya, demi mencapai derajat takwa. (Andi Ahmad Junirsah-Austria)

Buka Puasa Bersama, Tradisi "Konshuluk" Muslim Bulgaria

Monday, 22/09/2008 14:25 WIB
Ramadhan, menjadi bulan yang dinanti-nanti Muslim di Bulgaria. Karena pada bulan suci inilah, mereka bisa saling bertemu dan berkumpul lewat acara buka puasa bersama, yang kadang juga mengundang sahabat-sahabat mereka yang non-Muslim.

Ramadhan, menjadi bulan yang dinanti-nanti Muslim di Bulgaria. Karena pada bulan suci inilah, mereka bisa saling bertemu dan berkumpul lewat acara buka puasa bersama, yang kadang juga mengundang sahabat-sahabat mereka yang non-Muslim.

Warga Muslim yang tinggal di desa-desa di Bulgaria, setiap hari membuat masakan untuk berbuka puasa bersama. Keluarga-keluarga Muslim di selatan desa Chepintsi, adalah salah satu komunitas Muslim yang selalu menggelar acara berbuka puasa bersama yang diselenggarakan di masjid desa itu.

"Ini adalah salah tradisi Ramadhan kami yang indah. Keluarga-keluarga Muslim berlomba-lomba memberikan makanan terbaiknya untuk berbuka puasa bagi saudara-saudara mereka yang berpuasa," kata Mufti Bulgaria, Mustafa Haci.

"Kami dengan senang hari memberikan bantuan dana untuk menyediakan makanan berbuka, baik dari anggaran kami maupun dari donasi-donasi negara lain," sambung Haci.

Hampir sama denga mayoritas Muslim dunia lainnya, Muslim Bulgaria memulai hari pertama Ramadhan pada tanggal 1 September kemarin dan hampir setiap hari komunitas Muslim di negara itu menggelar acara buka puasa bersama.

"Banyak keluarga Muslim yang mengundang kerabat dan tetangga-tetangga mereka untuk berbuka puasa bersama. Ini menunjukkan adanya kehidupan sosial yang harmonis di kalangan Muslim Bulgaria, terutama di bulan suci Ramadhan," kata Sami Fazliiski, seorang mahasiswa dari kota Rudozem, salah satu kota yang banyak warga Muslimnya.

Menurut Fazliiski, tak jarang keluarga-keluarga Muslim itu juga mengundang tetangga dan sahabat mereka yang non-Muslim dalam acara berbuka puasa bersama dan mereka yang non-Muslim biasanya sangat antusias jika diundang berbuka puasa bersama. Hubungan baik antara warga Muslim dan penganut Kristen di Bulgaria, dikenal dengan istilah "konshuluk".

Para tamu berdatangan sebelum waktu adzan Maghrib tiba. Mereka saling bertukar cerita tentang aktivitas masing-masing selama bulan Ramadhan. Menjelang berbuka, biasanya ada ceramah pendek yang temanya bervariasi mulai dari pentingnya puasa dan ajaran-ajaran Islam lainnya.

"Setelah berbuka puasa dan salat Maghrib, kami semua menuju masjid untuk Salat Tarawih," jelas Fazliiski.

Data resmi negara Bulgaria menyebutkan warga Muslim Bulgaria jumlahnya sekitar 12 persen dari 7,8 juta total penduduk negeri itu. Sedangkan menurut perkiraan Rumah Fatwa Bulgaria, jumlah warga Muslim saat ini sudah mencapai 25 persen dari total jumlah penduduk. (ln/iol)

Sepanjang Ramadhan, al-Quran Laris Manis di Prancis

Sunday, 21/09/2008 14:06 WIB
"Penjualan al-Quran mulai meningkat, bahkan sebelum Ramadhan.Yang paling banyak dibeli adalah al-Quran ukuran kecil yang bisa masuk ke dalam saku," kata Ali Al-Maghori, pemilik toko buku di kota Paris.

Penjualan kita suci al-Quran meningkat tajam di Prancis selama bulan Ramadhan ini. Seorang pemilik toko buku di kota Paris mengatakan, al-Quran yang terjual setiap harinya mencapai 10 sampai 15 al-Quran.

"Penjualan al-Quran mulai meningkat, bahkan sebelum Ramadhan.Yang paling banyak dibeli adalah al-Quran ukuran kecil yang bisa masuk ke dalam saku," kata Ali Al-Maghori, pemilik toko buku itu.

Majalah Livre Hebdo-majalah khusus yang memantau penjualan buku-buku-memuat daftar buku-buku yang laris selama bulan Ramadhan, dan al-Quran berada di peringkat kedelapan yang paling banyak dibeli orang sejak tanggal 1 September kemarin, bertepatan dengan jatuhnya awal Ramadhan.

Di kota Paris, para pedagang al-Quran banyak ditemui terutama di pemukiman Belleville dan Paribas yang banyak komunitas Muslimnya. Selain al-Quran, buku-buku yang juga laris adalah buku-buku tentang petunjuk salat dan buku-buku tentang puasa di bulan Ramadhan. Tasbih dan sajadah untuk salat, juga banyak dicari menjelang bulan Ramadhan kemarin.

Ramadhan di Prancis juga ditandai dengan meningkatnya permintaan makanan-makanan ringan tradisional asal Afrika Utara yang rasanya manis.Seorang warga Muslim Perancis sampai harus mengantri di sebuah toko Tunisia di jalan Kablat yang menjual manisan khas bernama Zalabiya.

"Zalabiya adalah makanan utama kami selama bulan Ramadhan," kata Mokhtar.

Zalabiya adalah sejenis makanan seperti kue donat yang ditabur gula. Makanan ini menjadi makanan favorit di bulan Ramadhan bagi warga Muslim Perancis yang berasal dari negara-negara kawasan Afrika Utara. Selain Zalabiya, makanan khas lainnya yang banyak dicari adalah roti yang disebut Bouzgene Berber. Roti ini menjadi favorit warga Muslim asal Aljazair.

Di sepanjang jalan La Chapelle, banyak toko-toko yang menjual makanan manis lainnya seperti Baqlawa, makanan khas asal Turki. Supermarket-supermarket di Perancis termasuk jaringan supermarket Carrefour bahkan menyediakan tempat penjualan khusus makanan-makanan khas Ramadhan untuk memenuhi kebutukan hampir tujuh juta warga Muslim di Prancis yang kebanyakan berasal dari negara-negara kawasan Afrika Utara dan Turki. (ln/iol)

Ramadhan di Korea Selatan, Masjid Sentral Penuh dengan Jamaah

Jumat, 19/09/2008 14:33 WIB
Seid Issdram asal Maroko, bekerja di dekat Provinsi Gyeonggi. Ia harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam setiap hari ke kota Seoul agar bisa menjalankan salat tarawih berjamaah di Masjid Sentral.

Seperti masyarakat Muslim lainnya di seluruh dunia, warga Muslim di Korea Selatan mengisi ibadah puasa Ramadhan dengan memperbanyak membaca al-Quran dan berkumpul di masjid-masjid, terutama pada petang hari menjelang berbuka puasa sampai pelaksanaan salat tarawih.

Pemandangan seperti ini terlihat di Masjid Sentral yang terletak di jantung kota Seoul, ibukota Korea Selatan. Setiap petang masjid ini dipadati ratusan jamaah dari berbagai usia, baik warga Muslim Korea maupun warga negara asing. Saking banyaknya, jamaah bahkan meluber sampai ke luar gedung masjid, sehingga tak jarang mengundang perhatian warga lokal.

Seorang jamaah bernama Zain, asal Pakistan mengatakan, ia selalu menyempatkan diri datang ke Masjid Sentral meski untuk itu ia harus menutup tokonya di kawasan Itaetown. Jamaah lainnya, Seid Issdram asal Maroko yang bekerja di dekat Provinsi Gyeonggi. Ia harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam setiap hari ke kota Seoul agar bisa menjalankan salat tarawih berjamaah di Masjid Sentral.

Suasana akrab penuh persaudaraan begitu terasa, para jamaah yang datang meski tak saling kenal saling mengucapkan salam. Tak ketinggal para Muslimah berjilbab, banyak juga yang datang ke masjid sementara anak-anak mereka dibiarkan bermain di halaman masjid.

Menurut data Korea Muslim Federation (KMF) yang dibentuk sejak tahun 1967, di Korea Selatan terdapat 120.000-130.000 Muslim, baik dari orang Korea asli maupun warga negara asing. Imigran Muslim di Korea Selatan, kebanyakan berasal dari Pakistan dan Bangladesh. Sementara warga Korea asli yang memeluk Islam jumahnya sekitar 35.000 orang.

Meski demikian, masih banyak masyarakat Korea yang tidak mengetahui bahwa saat ini umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan, ibadah puasa yang hukumnya wajid bagi umat Islam.

Seorang remaja Muslim bernama Ahn Tae-hwan bercerita, teman-temannya sering bertanya mengapa ia tidak makan apapun selama beberapa hari ini. Tae-hwan tidak mengatakan bahwa ia sedang puasa bulan Ramadhan, tapi menjawab pertanyaan teman-temannya itu dengan mengatakan bahwa ia sedang diet.

Pemuda Muslim bernama Sun Ju-young mengaku kesulitan untuk memberikan pemahaman pada teman-temannya mengapa ia tidak makan daging babi atau tidak minum alkohol, ketika ia dan teman-temannya sedang jalan-jalan bersama. Teman-teman Ju-young berpikir bahwa ia alergi dengan makanan-makanan itu.

Ali Ahmad, mahasiswa asal Mesir yang sedang kuliah di Seoul National University mengungkapkan, masyarakat Korea tidak banyak tahu tentang Islam. Muslim lainnya, Seid menambahkan, "Banyak orang-orang Korea yang berpandangan negatif pada Muslim, karena sering melihat pemberitaan-pemberitaan tentang terorisme."

Pendapat itu dibenarkan Lee Ju-hwa, Sekretaris Jenderal KMF. "Masyarakat Korea selayaknya tidak berprasangka buruk terhadap Muslim dan mengakui fakta bahwa Muslim adalah bagian dari masyarakat Korea yang hidup dan bekerja di satu negara yang sama, " ujarnya. (ln/iol)

Ramadhan di Rumania, Para Mualaf Gelar Safari Iftar

Kamis, 18/09/2008 12:12 WIB Ramadhan tahun ini boleh dibilang menjadi Ramadhan-nya para mualaf di Rumania. Karena tahun ini mereka terjun langsung mengorganisir berbagai acara Ramadhan bagi kaum Muslimin di negeri itu.

Ramadhan tahun ini boleh dibilang menjadi Ramadhan-nya para mualaf di Rumania. Karena tahun ini mereka terjun langsung mengorganisir berbagai acara Ramadhan bagi kaum Muslimin di negeri itu. Antara lain menggelar acara buka puasa bersama di berbagai tempat.

"Ini adalah kegiatan yang baru pertama kalinya terjadi di Rumania, di mana para mualaf dilibatkan langsung dalam kegiatan-kegiatan untuk bulan Ramadhan, " kata Robert Hoisan, perwakilan Muslim Association Romania di Bucharest.

Hoisan dan seorang rekannya Dan Michi berusaha menggelar sebanyak mungkin acara buka puasa bersama di berbagai wilayah di Rumania. "Meski di suatu tempat cuma ada tiga atau empat Muslim, Insya Allah kami akan ke sana, berbuka puasa bersama dengan saudara-saudara kami, " ujarnya.

Di kota-kota besar Rumania yang banyak warga Muslimnya, Hoisan mendapat banyak bantuan dari sesama Muslim untuk menggelar iftar. "Ramadhan adalah rahmat yang luar biasa bagi mereka yang berpuasa dan merupakan moment yang sangat baik untuk saling mengenal sesama Muslim serta beraktivitas bersama dalam suasana yang penuh cinta demi mendapat ridho Allah, " tukas Hoisan.

Di bulan Ramadhan ini, Muslim Association of Romania berusaha menyatukan semua warga Muslim di negeri itu. Menurut Hoisan, mereka memulai upaya itu dengan membuat daftar para mualaf dan menghubungi mereka satu per satu.

"Kami mengundang mereka untuk datang ke masjid. Kami mengadakan rapat dan mendiskusikan tentang masa depan masyarakat Muslim di masa depan dari sisi pandang kami, " kata Hoisan.

Ia menyadari pentingnya menjaga saudara-saudara mereka yang baru saja memeluk Islam. "Al-Quran dan al-Hadist harus menjadi acuan dalam setiap aspek kehidupan kita. Itulah sebabnya kami belajar sebanyak mungkin sehingga kami bisa membagi ilmu yang kami punya dengan mereka yang baru masuk Islam atau dengan siapa pun yang tertarik dengan ajaran Islam, " jelas Hoisan.

Atas pertimbangan itulah, Hoisan dan rekan-rekannya tak pernah lelah mengundang para mualaf untuk datang ke masjid seminggu sekali dan belajar agama Islam di bawah bimbingan para imam masjid. Pada bulan Ramadhan ini, ceramah dan bimbingan agama Islam dilaksanakan hampir setiap hari.

Para anggota Asosiasi Muslim Rumania, juga berencana untuk melakukan perjalanan ke kota Ploiesti dan memberikan bantuan bantuan bagi para mualaf penyandang cacat tubuh. Menurut Hoisan, para mualaf ini menulis surat pada Asosiasi agar dibantu untuk belajar agama Islam karena mereka tidak bisa datang ke masjid.

"Insya Allah kami akan segera ke sana, memberikan buku-buku dan menunjukkan perhatian kami bagi saudara-saudara kami yang membutuhkan, " kata Hoisan.

Ia juga mengungkapkan, Ramadhan tahun ini di Rumania sangat spesial karena orang yang masuk Islam makin banyak. Menambah jumlah warga Muslim Rumania yang saat ini mencapai 70.000 ribu jiwa atau sekitar 2 persen dari 22 juta total penduduk negeri itu. Kebanyakan warga Muslim Rumania berasal dari Turki dan Albania. (ln/iol)

AKAN DISAMBUNG LAGI...(MARI KITA HAYATI..KONSEP ..MUSLIM UMMAH..!!! UNTUK MENOLAK FAHAM PERKAUMAN..!!!)


No comments:

Post a Comment

silakan komen dan beri pandangan anda untuk kebaikan semua!!

Post a Comment